Kamis, 19 November 2015

Hati Ini

"Bang... bang...! Bangun bang!" suara teman temanku terdengar di telingaku yang dari tadi memanggilku.

Suara teman-temanku terdengar jelas ditelingaku tapi mata ini sangat sulit untuk ku buka dan bagai ini pun terasa sangat berat untuk digerakkan. Dingin... dingin ku rasa badan dan kaki ini. Kepala dan dada ini seolah-olah penuh dan tak dapat tertahankan lagi. Maaf... aku kalah...

Hari ini adalah awal bulan November tahun ini. Ya... tanggal 1 November 2015 sekitar pukul 8 malam. Ku dengar suara teman-temanku sudah memenuhi kamarku. Mereka memanggil-manggil namaku dan mengkhawatirkan keadaanku.

"Hero... ada apa ini sebenarnya? Kamu itu lelaki yang kuat yang mau menanggung beban orang lain di pundakmu dan banyak orang-orang yang menyayangimu yang sedang menanti kepulanganmu di sana." aku berkata pada diriku sendiri.

"Maaf... maaf... tapi kali ini aku gagal." begitulah jawaban hatiku.

Perlahan teman-temanku mengangkat tubuh lemahku kesebuah mobil dan melarikanku ke sebuah klinik yang terletak tidak jauh dari asrama tempat aku tinggal. Mobil pun melaju cepat dan tak lama setelah itu kami pun sampai di depan klinik tersebut.

"Bang... kita di sini aja atau pergi kerumah sakit?" tanya salah seorang adik kelasku.

Aku berusahan membuka mata dan berusaha untuk mengucapkan sesuatu.

Sebenarnya aku tidak ingin pergi ke mana-mana, tapi teman-temanku sudah sangat khawatir dengan kondisiku dan telah membawaku ke klinik tersebut.

"Di sini aja." jawabku dengan nada yang sangat pelan.

"Maafkan aku teman-teman... aku sudah membuat kalian semua jadi repot seperti ini." ucapku dalam hati.

Badanku di angkat teman-temanku yang saat itu berdamaku dan aku dibaringkan disebuah tempat tidur yang terdapat di klinik tersebut. Tak lama setelah itu aku merasa tangan kananku ditusuk sebuah jarum, ya... jarum infus sedang dipasang di dekat pergelangan tangan kananku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dan aku sudah pasrah mau diapai, aku tidak perduli. Kemudian sebuah alat tensi darah dipasang di tangan kananku untuk melihat tekanan darahku sekarang.

"150..." begitulah yang ku dengar dari ucapan dokter perempuan tersebut yang biasa ku sapa dengan sapaan bunda.

Bunda memanggil-manggil namaku dan menyuruhku untuk membuka mataku.

Perlahan aku mencoba untuk membuka kedua mataku, tapi tatapan mataku masihlah sayu sekali.

"Coba matanya dibuka.... ini siapa?" bunda menanyaku dan mengarahkan tangannya ke arah adik kelasku yang kala itu ikut mengantarku.

"Wildan..." jawabku lirih.

Ya... adik kelasku memang benar Wildan yang sekarang menjabat sebagai bagian kesehatan di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa)

Satu persatu pertanyaan ditanyakan oleh bunda kepadaku, akan tetapi kebanyakan hanya ku jawab dengan anggukan atau pun gelengan kepala saja.

Tak lama setelah itu aku dipindahkan ke ruangan yang biasa digunakan untuk rawat inap di bagian belakan klinik. Badanku masih sangat lemas saat itu, tapi agak lebih bertenaga dari sebelumnya mungkin karena cairan infus yang telah diinjeksikan kedalam tubuhku ini. Ah... ada apa dengan diriku ini? Aku tidak mengerti.

Biasanya seseorang yang memiliki tekanan darah yang normal itu berkisar 120-130 untuk orang dewasa, akan tetapi sekarang aku jauh dari itu. Apakah aku terkena hipertensi? Atau yang biasa disebut masyarakat dengan sakit darah tinggi. Aduh... apa yang terjadi ini.

Stres atau beban pikiran yang terlalu tinggi juga bisa memicu serangan darah tinggi ini, ditambah lagi kalau gaya hidup yang tidak sehat. Ah... mungkin sekarang emang aku sedang dilanda sebuah masalah yang sangat serius, bukan cukup serius tapi sangat serius.

Pola hidupku emang tidak sehat. Aku biasa menghabiskan waktu ku di depan layar laptopku dan kegiatanku kebanyakan serkaitan dengan laptopku. Terkadang aku bisa tahan berada di depan laptop sampai larut malam, buruknya lagi aku sangat jarang sekali olahraga bahkan hampir tidak pernah. Aku juga sering telat makan bahkan keseringan tidak makan, kalau sudah begitu aku hanya makan mie instan cup atau sekedar makan biskuit saja.

Tetes demi tetas cairan infus selalu ku perhatikan dari botol infus tersebut. Waktu terasa sangat panjang dan kepalaku masih terasa sangat pusing memikirkan kejadian pada malam sebelumnya yang membuat aku shok.

Aku berharap malamku cepat berlalu di klinik ini, tapi kejadian malam sebelumnya juga masih menghantuiku. Kenapa aku jadi paranoid seperti ini ya? Aku juga tidak paham mengapa, mungkin aku terlalu takut untuk meninggalkan mereka dalam keadaan seperti itu.

Mereka… siapa sebenarnya mereka?
Apa… kejadian apa yang telah terjadi sebelumnya?

Aku sebenarnya belum begitu lama mengenal mereka. Tapi ketika kucoba berbicara dengan mereka di chatting room, aku merasa permasalahan mereka itu nggak jauh berbeda dengan masalah yang pernah ku alami dahulu. Aku jadi ikut sedih dengan keadaan mereka, karena mereka sama sepertiku.

Aku tak bisa meninggalkan mereka dalam dunia gelap ini.

****
Sebagai penghuni asrama, maka aku harus mengikuti peraturan-peraturan berasrama yang telah disepakati dahulu ketika aku ingin memantapkan langkahku di tempat ini. Peraturan yang mengikat setiap penghuninya agar bisa hidup dengan baik di dalam asrama yang di huni 300 orang lebih mahasiswa dari tiap penjuru tempat di negeriku. Taman-temanku dating dari berbagai tempat dan daerah dan mereka semua harus taat terhadap peraturan asrama tersebut, kalau tidak mereka harus keluar dari tempat ini. Peraturan adalah peraturan, yang diinginkan sebenarnya adalah kebaikan untuk kita semua.

Waktu itu kalau tidak salah sudah sekitar pukul 1 malam lebih kalau aku tidak salah. Rasa kantukku pun mulai merajai diri ini, tapi aku masih menunggu sebuah jawaban dari seorang teman yang tak ku taku rumahnya di mana, tak ku tahu suaranya bagai mana yang ku tahu Cuma foto profilnya saja kalau dia pasang foto aslinya di sana. Esok hari aku harus menyetorkan hafalan al-qur’an yang dahulu pernah ku hafal, setengah juz 30. Aku selalu mengulang-ulang mp3 dari laptopku untuk mengisi malam ku saat itu, berharap kalau esok hari aku tidak terlalu repot untuk mengingat-ingat kembali hafalanku itu. Disamping itu aku juga ingin melihat tugas yang diberikan seorang dosen di kelas beberapa waktu yang lalu. Sebuah tugas tata cara penulisan skripsi yang baik, maklum sekarang aku sudah semester VII yang artinya tak lama lagi aku akan menyelesaikan studiku di sini insyaallah. Inilah kegiatanku ketika malam itu.

Emang ada apa sih dengan malam itu?

Sebuah kejadian yang tak terduga aja yang memusingkan kepalaku. Sungguh sangat pusing aku dibuat permasalahan yang satu ini dan permasalahan yang lebih memusingkan lagi yang nantinya bakal ku temui.

Malam itu sudah begitu sepi dan sunyi, lampu kamar dan lorong asrama juga sudah mati semua. Aku yang tadinya dalam posisi duduk sekarang juga sudah berubah posisi ke posisi tengkurap di kasurku. Aku memutuskan untuk mematikan laptopku dan pergi tidur, karena mataku sepertinya sudah tidak bisa bertahan lagi. Tatkala aku ingin mematikan laptopku sebuh notifikasi masuk dan ini adalah jawaban dari teman yang tak tahu aku rumanya tadi. Dia pun membalas pesanku tadi. Sudah dari tadi aku menanti balasan ini, dan aku pun segera membalas pesan yang telah dikirimnya untukku.

Seorang teman baru yang tak ku kenal itu memiliki permasalahan yang dahulu juga menjadi permasalahanku yang sebenarnya samapi sekarang ini pun masih dipermasahkan tentang diriku. Tapi permasalahanku akan aku bahas nanti, aku ingin membahas masalah ini terlebih dahulu. Aku tak segan segan memberinya nasehat dan saranku tentang permasalahan ini yang Alhamdulillah dia mau terima itu. Tapi yang tak disangka adalah… pimpinan tertinggi kampusku dating menghampiriku. Dia berdiri tepat di samping ranjangku dan membuat aku kaget. Tak biasanya seorang pimpinan tertinggi kampus hadir disebelahku ditengah malam seperti ini yang biasanya juga hanya pengasuh asrama muda yang umurnya tak begitu jauh dengan umurku. Ops… aku tak bisa ngomong apa lagi.

Aku terus menekan “ENTER” dan mengirim pesanku yang aku rasa itu pesan penting yang harus ku sampaikan saat itu juga. Aku nggak perduli efek kebelakangnya apa setelah mala mini. Aku hanya berpikir kalaulah aku bisa menyelamatkan satu orang saja dari dunia ini, maka itu sudahlah cukup baik bagiku. Aku hanya bisa berusaha berbuat baik dan melakukan sesuatu sebisa aku dengan kemampuanku ini dan pengalamanku yang ku dapatkan. Setelahnya aku langsung mematikan laptopku. Jujur… aku tidak ingin mereka mati dalam keadaan seperti ini.

Dengan berbahasa Arab pimpinan tertinggi itu menanyakanku beberapa soal dengan nada yang dingin. Aku pun tertunduk lesu dan seolah tak sanggup lagi berbicara apa. Kenapa mesti pimpinan tertinggi yang sekarang malah berada di sampingku. Tak lama setelah itu pimpinan tertinggi itu pergi beserta laptopku. Aku masih merasakan kalau ini seperti mimpi saja yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Kalau ditinjau dari peraturan asrama emang aku sudah melanggar beberapa pasal sih. Di sini tidak boleh pake internet, tidak juga boleh memakai laptop di atas jam tidur. Sekarang kan juga sudah jam 1 malam. Yah… apa boleh buat, ini semua mutlak salahku. Hadeh….

Akhirnya malam itu menjadi malam yang sangat panjang dan menjadi malam yang sangat special yang tak bisa ku lupakan. Kalau di ingat, aduh…. Sakit kepala ini. Oh ia… tugasku dan proposal skripsiku kan datanya di laptop semua! Wah gimana nie kalau laptop itu di tahan. Gawat… gawat….



2 komentar:

  1. Lanjutkan bang...

    Singgah juga ke mari bang sahabatannuur.blogspot.co.id

    BalasHapus
  2. oke... kita pertahankan.... kamu juga semangat ya!

    BalasHapus