Kita terlahir dari
keluarga yang berbeda, walau pun masih keluarga dekat. Meski bukan saudara
kandung, tapi kamu tetaplah adikku. Aku memikirkanmu melebihi orang-orang yang
lain dalam kehidupanku, walau pun aku memiliki adik kandung. Karena ku yakin
apa yang di dapatkan oleh adikku sudah cukup baginya, karena dia memiliki aku
dan saudara-saudaraku yang lain. Tapi kamu difikiranku berbeda, apa yang engkau
dapatkan dari keluargamu tak sebanyak yang didapatkan adikku dalam
kehidupannya. Dikarenakan itu, aku selalu memikirkanmu.
Dahulu di masa
kecilku dan tak lekang dari ingatanku, ku selalu menghabiskan masaku bersamamu
dan tak ingin lepas darimu. Hal yang tak ku suka saat itu adalah ketika
matahari akan terbenam, karena saat itu waktuku telah habis untuk bermain
bersamaamu. Dengan mengendap-endap aku pulang dari rumahmu, mencari celah di
saat engkau tidak memperhatikanku. Dan tak sekali dua kali aku tak bisa
melepaskan diri darimu, dan kamu pun menangis di saat ku tinggalkanmu. Bukan
Cuma kamu saja yang sedih, tapi aku pun merasa demikian. Sepanjang jalan aku
menahan air mataku dan rasa kesalku karena waktu telah berlalu, dan tak jarang
juga air mata itu mengalir di pipiku. Dan saat itu aku berharap waktu cepat
berlalu, hingga ku temui hari esok agar ku bertemu dan bermain bersamamu lagi.
Hari demi hari telah
kita lalui bersama dan saat itu kita harus berpisah karena kamu pindah rumah
bersama keluargamu. Itu adalah suatu hal sangat menyayat hatiku, karena aku
tidak tahu kapan akan dapat bertemu denganmu kembali. Aku selalu menanti kabar
darimu, apakah engkau sehat di sana wahai adikku apakah makanmu cukup? Itu yang
selalu dalam benak fikiranku.
Saat kamu di sana
dan aku di sini aku mendengar bahwa ayahmu sedang sakit dan akhirnya dia pun
meninggalkan kita. Aku sangat kesal pada diriku waktu itu, karena aku tidak
bisa melakukan apa-apa untuk ayahmu. Dan kamu pun tinggal bersama ibu dan
kakakmu. Sekarang kini kamu kehilangan kasih seorang ayah, dan itu membuatku
menjadi semakin memikirkanmu. Dan tak lama setelah itu ibumu pun menikah
kembali dan hidup bersama suami barunya.
Satu lagi yang
membuat hatiku menjerit dan rasanya aku ingin menangis sekuat-kuatnya dan
berteriak sekuat kuatnya ketika kamu tidak misa melanjutkan sekolahmu ke
jenjang SMP. Aku berfikir keras untuk itu, dan ku pastikan kabar itu dengan
bertanya pada kakek, kenapa itu bisa terjadi dan kenapa tidak bisa diusahakan?
Aku marah kepada diriku karena aku tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu. Bagai
mana mungkin aku bisa tenang kalau dilihat dari pendidikanku SMK yang
sekolahnya memiliki fasilitas yang cukup lengkap dengan iuran sekolah yang
cukup besar, sedangkan kamu tidak bisa diusahakan memasuki sekolah SMP yang
biaya sekolahnya jauh lebih burah. Aku masih ingat ketika abangku berkata
"Mau jadi apa dia (aku) kalau tidak di sekolahkan (SMA sederajat),
sedangkan kami semua sekolah SMA? Kalau dia (aku) ngak di sekolahkan, mungkin
dia akan bertamabah bandel dilihat dari pergaulannya." ketika aku tidak
lulus SMA faforit dan ayahku tidak mau ambil tindakan dan ambil pusing tentang
sekolahku. Begitulah abangku memperjuangkanku dahulu. Tapi apa yang bisa ku
lakukan untukkmu? Aku tidak memiliki kekuatan untuk itu. Adikku, tolong maafkan
abang ya!
Gagal, aku gagal
menjadi seorang abang yang baik. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan gajiku
yang pas-pasan untukku di saat aku bekerja setelah selesai SMK dan kini aku
masih melanjutkan studiku di perguruan tinggi suasta dan tak berpenghasilan.
Hanya dana dari ayahku lah yang ku harap-harapkan setiap bulannya, karena aku
belum bisa bekerja. Adikku! Ku sebut selalu namamu dalam do'aku, mudah mudahan
Allah Azza Wajalla selalu menjaga dan melindungimu dari segala mara bahaya. Tak
ada yang lain lagi yang bisa ku lakukan selain itu untuk sekarang ini. Adikku!
Sungguh abang hanya ingin membuat kamu bahadia dalam dunia dan akhiratmu.
Setelah mendengar
kabar tentangmu, bahwasannya engkau sedang sakit karena jatuh dari sepeda motor
dan mengalami luka yang cukup serius di kepalamu. Aku tidak bisa berfikir
tenang lagi saat itu, dan aku putuskan untuk pulang menjengukmu dan ku
tinggalkan semua urusan yang sedang mencekik leherku. Aku hanya berharap engkau
baik-baik saja saat itu. Dan setelah melihat kabarmu dengan mata kepalaku
sendiri, barulah aku tenang. Air mata yang jatuh mengalir sebelumnya, ku tahan
di hadapanmu. Aku tidak inggin kamu bersedih wahai adikku. Karena engkau
terlalu berharga untukku.
Aku tidak boleh
seperti ini, dikarenakan dengan kemampuanku yang seperti ini aku tidak akan
bisa berbuat apa-apa. Aku tidak akan misa melindungi seorang pun, apa bila aku
masih lemah. Aku harus kuat, kuat dan lebih kuat lagi. Aku tidak ingin
kesedihan melanda orang-orang yang ku sayang berkepanjangan. Mudah-mudahan aku
bisa mewujudkan semua impianku sebelum semuanya telah benar-benar berakhir.
Allah Ta'ala lebih menyukai seorang muslim yang kuat, dari pada seorang muslim
yang lemah. Untuk itu aku harus menjadi kuat.
Ketika aku pulang ke
kampung, orang mengatakan bahwa aku menjadi gemuk. Semua kata yang biasa yang
bisa membuatku menangis, karena ku lihat tubuhmu yang mungil itu dalam keadaan
kurus. Aku merasa bingung, atas apa yang ku dapatkan dan apa yang engkau dapatkan.
Tapi semua ini telah tertulis di lauh mahfudz, semua ini sudah di takdirkan
oleh Allah Ta'ala ketika kita semua berada dalam kandungan orang tua kita. Aku
mohon kamu tetap bersabar dan tegar dalam menghadapi kehidupanmu dan janganlah
berputus asa, karena Allah Ta'ala tidaklah menyukai orang-orang yang berputus
asa. Karena orang-orang yang berputus asa adalah orang-orang yang terputus dari
rahmat Allah Azza Wajalla.
Maka untuk itu,
bertakwalah engkau kepada Allah! Karena tidaklah Allah Ta'ala menciptakan jin
dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah kepadanya. Adikku sayangilah dirimu
dan orang tuamu dari azab api neraka dikarenakan umurmu yang sekarang ini sudah
mulai meninggi. Allah Ta'ala berfirman dalam al-qur'an surat at-tahrim yang
artinya "Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari
azab api neraka yang bahan bakarnya terbuat dari manusia dan bebatuan, yang
menjaganya malaikat-malaikat yang kejam dan bengis yang tidak durhaka kepada
Allah atas apa yang diperintahkanNya dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan" maka dari pada itu sholatlah adikku dan do'akanlah ayah dan
ibumu. Jangan sia-siakan pengorbanan mereka dalam membesarkanmu dan begitu juga
kakek dan nenek yang telah mengurusmu selama ini. Berdo'alah untuk mereka
sehabis sholatmu. Itulah buktinya kamu menyayangi mereka wahai adikku. Kalaulah
engkau tidak menyayangi dirimu sendiri dan tidak berdo'auntuk dirimu, bagaimana
engkau mendo'akan mereka orang-orang kamu cintai. Abang mohon dengan sangat,
sayangilah dirimu dan mereka yang telah membesarkanmu! Abang minta maaf, karena
tidak bisa menjadi abang yang baik untukmu. Tapi abang akan tetap berusaha
menjadi abang yang baik untukmu. Jaga dirimu baik baik wahai adikku, Andi.