Minggu, 26 April 2015

Bayangan

Dalam kecerian ini dan semangat untuk menebarkan kebaikan ke mana aja dan ke siapa aja, ada bayangan hitam yang masih menghantuiku. Aku masih takut untuk mengenangnya, dan sakit di dada ini yang teramat sangat ke tika ku menahannya. Apa yang harus ku lakukan? Tak banyak orang yang tahu tentang bayangan hitam yang terdapat di hatiku yang selalu menjadi momok menakutkan dalam hidupku. Bagaimana tidak, semua impian, harapan dan keluargaku bisa ikut hancur dibuatnya. Ya Allah! Aku tidak mau kalau semua ini akan di akhiri oleh bayangan hitam ini, aku ingin seperti orang lain bisa hidup tenang dan tentram tanpa di hantui oleh bayangan hitam.

Aku tidak tahu pasti, kapan bayangan hitam ini muncul dalam kehidupanku. Yang ku tahu pasti, ketika aku duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) aku merasakannya di sisiku. Sering kali bayangan ini membisikkanku untuk melakukan kemungkaran dan terkadang dia berhasil mengambil alih tunbuh ini dan melakukan sesuatu yang dia sukai walau hati ini mengingkarinya dan menangis karenanya, tapi apalah yang bisa ku lakukan kalau dia telah datang dan membuat duniaku menjadi gelap karenanya.

Aku terkadang merasa hidupku bagaikan sebuah bayang-bayang, karena selalu menutupi sisi hitam dalam hidupku dan berharap tidak ada orang yang mengetahuinya dan yang mengetahuinya moga cepat melupakannya. Sampai kapankah aku bisa bertahan dalam bayang-bayang kelam ini, berusaha menutup celah agar bayangan hitam ini tidak merembet keluar dan mengasai tubuh ini lagi seperti waktu dahulu.

Sampai sekarang aku masih merasa bersalah dengan kepergiannya temanku. Aku yang telah memulainya dan aku belum bisa mengakhiri kegilaan ini untuknya sampai dia telah pergi dariku untuk selama lamanya. Sekarang ku karantina diriku dan berharap semua usahaku ini tidaklah menjadi sia-sia dan membuahkan hasil yang manis setelah semua kegelisahan dan kegundahan yang merajai hati dan fikiran ini. Pernah aku berfikir untuk menghilang saja dari kehidupan keluarga dan kerabatku, karena inilah yang terbaik untuk mereka kalau ternyata aku kalah dalam pertarungan ini.

Abang-abangku dan seorang pamanku telah melihat bayangan hitam itu, sisi gelap dari diriku. Mereka sepertinya sangat terkejut dan seolah tidak percaya. Tapi inilah kenyataan yang sedang ku alami sekarang ini, problem yang lebih besar dari pada yang pernah mereka alami. Bereka bersikeras untuk menjagaku dan memantau perkembanganku, bila mana bayangan hitam ini muncul. Mereka sangat keras terhadapku dan tidak mau ampun untuk itu. Itu semua sih wajar saja, karena mereka semua adalah keluargaku yang menyayangiku. Sepertinya merka juga merasa mersalah sih kedapa aku sampai seperti ini, mereka lalai dalam menjagaku dahulu. Tapi penyesalan tidaklah berguna, yang terpenting bagaimana aku ke depan nanti. Lelah juga sih main kucing-kucingan dengan semua ini. Ingin saja aku bunuh kucingnya, hehe…


Inilah termasuk yang aku benci dalam hidupku, warna hitam yang pekat ada pada diriku. Kehidupan ini memang tidak bisa tertebak kawan. Siapa sih yang mau dalam posisi ini? Tapi semua ini harus ku jalani dan harus segera ku akhiri. Semoga aku kuat Ya Allah! Amin.

Senin, 20 April 2015

Tanam Padi Tumbuh Rumput

Sebagai mahasiswa jurusan KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) atau bisa juga sih di sebut jurusan Dakwah, aku memiliki tuntutan untuk berdakwah di kampungku sendiri. Selain kampung itu tempat kelahiranku, di sana juga terdapat karib kerabat yang sangat aku cintai dan sayangi yang ingin aku lindungi dan ingin aku fahamkan mereka tentang agama mereka yaitu islam. Tapi tentu saja berdakwah di kampung sendiri tidaklah semudah berdakwah di kampung orang, karena mereka adalah orang-orang yang hidup bersamaku dari masa kecilku yang mengetahui gimana bandelnya aku dahulu. Ini adalah sebuah tantangn untuk dijalani kawan.

Awal mula aku kuliah jurusan KPI ini di PTS (Perguruan Tinggi Swasta) yang terletak di ibu kota provinsiku, banyak masyarakat kampungku yang melihatku dengan pandangan miring. Ada yang bilang aku bakalan jadi teroris, perakit bom dan berbagi tuduhan lain yang samar-samar sampai ke telingku. Sebagian ibu-ibu di kampungku mengatakan "Kasihan ya anak-anak bapak itu, ganteng-ganteng kok alirannya sesat. Padahal anak-anak bapak itu baik-baik." ya begitulah tanggapan sebagian ibu-ibu di kampungku setelah mengetahu aku kuliah jurusan agama yang mereka ketahui PTS tersebut. Sebenarnya aku juga kasihan sih kepada mereka, karena mereka tidak mengetahui bahwasannya mereka tidak tahu.

Pada dasarnya mereka (warga kampungku) sangatlah menyayangi aku. Mengapa tidak, karena aku selalu berbaur bersama mereka dan menyayangi anak-anak mereka dan aku menganggap mereka semua adalah keluargaku. Aku sering berkunjung ke rumah-rumah mereka, sekedar cerita atau bermain atau membantu apa yang bisa aku lakukan. Itulah yang membuat aku berbeda dari abang-abangku. Tapi semua itu berubah setelah kerjaan api menyerang…. Eh, maksudku setelah aku kuliah di PTS tersebut. Hehe….

Sekarang aku duduk di semester enam yang sebelumnya aku sudah mengambil setahun untuk mempelajari bahasa Arab ketika aku masih D1. Banyak yang telah kulakukan dan kufikirkan untuk warga kampungku tercinta agar mereka mau menerima dakwah ini, tapi usahaku ini masih jauh dari keberhasilan. Aku pernah membagikan al-qur'an terjemahan kepada mereka, aku juga pernah membagikan buku-buku islami, terus aku juga pernah membagikan kurma untuk mereka, sampai aku pernah membawa team Safari Dakwah Id Adha ke kampungku dan mengadakan penyembelihan hewan kurban di sana, tapi itu semua tidaklah merubah pandangan miring mereka terhadapku. Ah… harus bagai mana ku mengungkapkannya…. Kau pemilik hatiku… hehe… maksudku bagaimana lagi caraku memahamkan wargaku tentang agama islam ini ya? Seperti kewajiban seorng muslim untuk mendirikan sholat dan puasa Ramadhan, membayar zakat dan meramaikan mesjid dan yang lebih utama lagi bagaimana mereka tidak mensekutukan Allah Ta'ala dengan pergi ke tempat-tempat perdukunan dan lain sebagainya. Naguzubillahmindzalik.

Sebenarnya sebagian dari masyarakat berfikir begini "Ngapailah anak ini ngurusi orang lain, membuat atau menyelisihi yang telah berjalan lama di kampung ini." mungkin begitu ya mereka berfikir. Sebenarnya aku juga tidaklah mau menyelisihi kebiasaan atau adat yang sudah ada dari jaman nenek moyang kita dahulu, dan kalau difikir-fikir siapa yang mau cari bala? Kan sudah pasti akan timbul masalah kalau aku menyelisihi kebiasaan di kampung. Tapi semua itu aku lakukan karena aku sudah mengetahui sebagian dari  kebiasaan kita di kampung itu menyelisihi syariat islam itu sendiri dan tidak mengikuti sunnah. Emang kalau dibilang aku ini masih anak kencur atau anak kemarin sore, tapi kalau aku saja yang sudah mengetahui hakikat suatu kebiasaan itu menyelisihi syariat islam, masak aku harus mengikutinya? Siapa lagi yang bakal menghidupkan sunnah, kalau penuntut ilmu itu enggan mengerjakan sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassallam. Setiap aku membaca al-qur'an surat at-Tahrim, Allah Ta'ala berfirman :

ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Aku selau terbayang dengan keluargaku dan karib kerabatku di kampung. Siapa yang rela kalau mereka dimasukkan Allah Ta'ala ke dalam neraka sebagai bahan bakar api neraka itu sendiri dan mereka nanti di sana dijaga oleh malaikat-malaikat yang kasar dan bengis-bengis yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala kepada mereka. Kalau kita tahu apa yang menimpa mereka kalau mereka tidak menjalankan syariat Allah Ta'ala, apa kita ridho kalau mereka di masukkan ke sana? Maka dari pada itulah aku terus berusaha mengingatkan mereka, walau sekalipun mereka mencelaku dan membenciku. Walau aku sering dikatai sesat, teroris dan sebagainya, aku tidaklah bisa membenci mereka. Itu semua karena aku mengetahui, apa yang mereka belum mengetahuinya. Kalau dilihat, siapalah aku? Aku hanya seorang pemuda kampung biasa dengan kemampuan yang terbatas, tapi aku berharap semua orang yang cintai dan ku kenal mendapatkan hidayah taufik dari Allah Ta'ala dan merasakan manisnya iman itu.


Suatu waktu, setelah kami selesai mengadakan acara Safari Dakwah Id Adha di kampungku, ku dengar bahwasannya pembesar-pembesar desa di lorong tempat aku tinggal dan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di sana telah berkumpul dan menetapkan bahwasannya aku tidak boleh berceramah lagi di mushalla yang terletak di depan rumahku. Ah… sekarang aku telah dilarang melakukan aktifitas keagamaan di mushalla itu, kecua;li sholat berjamaah. Sekarang jika datang waktu liburan, maka aku tidak bisa berceramah lagi di sana dan mengajari anak-anak mengaji di sana walau anak-anak di sana mendesakku untuk mengajarinya. Pada liburan yang terakhir ini, ketika aku mengajari anak-anak kampungku mengaji di mushallah, ayahku menahanku dan menyuruhku pulang. Ah… ayah melarangku bukannya nggak beralasan, tapi kalau aku masih mengajari anak-anak itu mengaji maka ayahkulah yang bakal masyarakat cela dan sudutkan nantinya. Demi kemaslahatan ayah, maka aku menghentikan kegiatanku ini. Aku melihat anak-anak di kampungku yang semangat belajar al-qur'an dan mendengarkan kata-kata nasehat dariku kecewa berat. Ya… mau bagaimana lagi, apa yang harus ku lakukan kalau sudah dilarang. Aku hanya bisa berdoa, semoga warga kampungku diberi hidayah oleh Allah Ta'ala dan dibukakan pintu hati mereka semua. Amin.

Surat Untuk Andi

Kita terlahir dari keluarga yang berbeda, walau pun masih keluarga dekat. Meski bukan saudara kandung, tapi kamu tetaplah adikku. Aku memikirkanmu melebihi orang-orang yang lain dalam kehidupanku, walau pun aku memiliki adik kandung. Karena ku yakin apa yang di dapatkan oleh adikku sudah cukup baginya, karena dia memiliki aku dan saudara-saudaraku yang lain. Tapi kamu difikiranku berbeda, apa yang engkau dapatkan dari keluargamu tak sebanyak yang didapatkan adikku dalam kehidupannya. Dikarenakan itu, aku selalu memikirkanmu.

Dahulu di masa kecilku dan tak lekang dari ingatanku, ku selalu menghabiskan masaku bersamamu dan tak ingin lepas darimu. Hal yang tak ku suka saat itu adalah ketika matahari akan terbenam, karena saat itu waktuku telah habis untuk bermain bersamaamu. Dengan mengendap-endap aku pulang dari rumahmu, mencari celah di saat engkau tidak memperhatikanku. Dan tak sekali dua kali aku tak bisa melepaskan diri darimu, dan kamu pun menangis di saat ku tinggalkanmu. Bukan Cuma kamu saja yang sedih, tapi aku pun merasa demikian. Sepanjang jalan aku menahan air mataku dan rasa kesalku karena waktu telah berlalu, dan tak jarang juga air mata itu mengalir di pipiku. Dan saat itu aku berharap waktu cepat berlalu, hingga ku temui hari esok agar ku bertemu dan bermain bersamamu lagi.

Hari demi hari telah kita lalui bersama dan saat itu kita harus berpisah karena kamu pindah rumah bersama keluargamu. Itu adalah suatu hal sangat menyayat hatiku, karena aku tidak tahu kapan akan dapat bertemu denganmu kembali. Aku selalu menanti kabar darimu, apakah engkau sehat di sana wahai adikku apakah makanmu cukup? Itu yang selalu dalam benak fikiranku.

Saat kamu di sana dan aku di sini aku mendengar bahwa ayahmu sedang sakit dan akhirnya dia pun meninggalkan kita. Aku sangat kesal pada diriku waktu itu, karena aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk ayahmu. Dan kamu pun tinggal bersama ibu dan kakakmu. Sekarang kini kamu kehilangan kasih seorang ayah, dan itu membuatku menjadi semakin memikirkanmu. Dan tak lama setelah itu ibumu pun menikah kembali dan hidup bersama suami barunya.

Satu lagi yang membuat hatiku menjerit dan rasanya aku ingin menangis sekuat-kuatnya dan berteriak sekuat kuatnya ketika kamu tidak misa melanjutkan sekolahmu ke jenjang SMP. Aku berfikir keras untuk itu, dan ku pastikan kabar itu dengan bertanya pada kakek, kenapa itu bisa terjadi dan kenapa tidak bisa diusahakan? Aku marah kepada diriku karena aku tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu. Bagai mana mungkin aku bisa tenang kalau dilihat dari pendidikanku SMK yang sekolahnya memiliki fasilitas yang cukup lengkap dengan iuran sekolah yang cukup besar, sedangkan kamu tidak bisa diusahakan memasuki sekolah SMP yang biaya sekolahnya jauh lebih burah. Aku masih ingat ketika abangku berkata "Mau jadi apa dia (aku) kalau tidak di sekolahkan (SMA sederajat), sedangkan kami semua sekolah SMA? Kalau dia (aku) ngak di sekolahkan, mungkin dia akan bertamabah bandel dilihat dari pergaulannya." ketika aku tidak lulus SMA faforit dan ayahku tidak mau ambil tindakan dan ambil pusing tentang sekolahku. Begitulah abangku memperjuangkanku dahulu. Tapi apa yang bisa ku lakukan untukkmu? Aku tidak memiliki kekuatan untuk itu. Adikku, tolong maafkan abang ya!

Gagal, aku gagal menjadi seorang abang yang baik. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan gajiku yang pas-pasan untukku di saat aku bekerja setelah selesai SMK dan kini aku masih melanjutkan studiku di perguruan tinggi suasta dan tak berpenghasilan. Hanya dana dari ayahku lah yang ku harap-harapkan setiap bulannya, karena aku belum bisa bekerja. Adikku! Ku sebut selalu namamu dalam do'aku, mudah mudahan Allah Azza Wajalla selalu menjaga dan melindungimu dari segala mara bahaya. Tak ada yang lain lagi yang bisa ku lakukan selain itu untuk sekarang ini. Adikku! Sungguh abang hanya ingin membuat kamu bahadia dalam dunia dan akhiratmu.

Setelah mendengar kabar tentangmu, bahwasannya engkau sedang sakit karena jatuh dari sepeda motor dan mengalami luka yang cukup serius di kepalamu. Aku tidak bisa berfikir tenang lagi saat itu, dan aku putuskan untuk pulang menjengukmu dan ku tinggalkan semua urusan yang sedang mencekik leherku. Aku hanya berharap engkau baik-baik saja saat itu. Dan setelah melihat kabarmu dengan mata kepalaku sendiri, barulah aku tenang. Air mata yang jatuh mengalir sebelumnya, ku tahan di hadapanmu. Aku tidak inggin kamu bersedih wahai adikku. Karena engkau terlalu berharga untukku.

Aku tidak boleh seperti ini, dikarenakan dengan kemampuanku yang seperti ini aku tidak akan bisa berbuat apa-apa. Aku tidak akan misa melindungi seorang pun, apa bila aku masih lemah. Aku harus kuat, kuat dan lebih kuat lagi. Aku tidak ingin kesedihan melanda orang-orang yang ku sayang berkepanjangan. Mudah-mudahan aku bisa mewujudkan semua impianku sebelum semuanya telah benar-benar berakhir. Allah Ta'ala lebih menyukai seorang muslim yang kuat, dari pada seorang muslim yang lemah. Untuk itu aku harus menjadi kuat.

Ketika aku pulang ke kampung, orang mengatakan bahwa aku menjadi gemuk. Semua kata yang biasa yang bisa membuatku menangis, karena ku lihat tubuhmu yang mungil itu dalam keadaan kurus. Aku merasa bingung, atas apa yang ku dapatkan dan apa yang engkau dapatkan. Tapi semua ini telah tertulis di lauh mahfudz, semua ini sudah di takdirkan oleh Allah Ta'ala ketika kita semua berada dalam kandungan orang tua kita. Aku mohon kamu tetap bersabar dan tegar dalam menghadapi kehidupanmu dan janganlah berputus asa, karena Allah Ta'ala tidaklah menyukai orang-orang yang berputus asa. Karena orang-orang yang berputus asa adalah orang-orang yang terputus dari rahmat Allah Azza Wajalla.


Maka untuk itu, bertakwalah engkau kepada Allah! Karena tidaklah Allah Ta'ala menciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah kepadanya. Adikku sayangilah dirimu dan orang tuamu dari azab api neraka dikarenakan umurmu yang sekarang ini sudah mulai meninggi. Allah Ta'ala berfirman dalam al-qur'an surat at-tahrim yang artinya "Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari azab api neraka yang bahan bakarnya terbuat dari manusia dan bebatuan, yang menjaganya malaikat-malaikat yang kejam dan bengis yang tidak durhaka kepada Allah atas apa yang diperintahkanNya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" maka dari pada itu sholatlah adikku dan do'akanlah ayah dan ibumu. Jangan sia-siakan pengorbanan mereka dalam membesarkanmu dan begitu juga kakek dan nenek yang telah mengurusmu selama ini. Berdo'alah untuk mereka sehabis sholatmu. Itulah buktinya kamu menyayangi mereka wahai adikku. Kalaulah engkau tidak menyayangi dirimu sendiri dan tidak berdo'auntuk dirimu, bagaimana engkau mendo'akan mereka orang-orang kamu cintai. Abang mohon dengan sangat, sayangilah dirimu dan mereka yang telah membesarkanmu! Abang minta maaf, karena tidak bisa menjadi abang yang baik untukmu. Tapi abang akan tetap berusaha menjadi abang yang baik untukmu. Jaga dirimu baik baik wahai adikku, Andi.

Minggu, 19 April 2015

Malam Terkutuk

Teringat nie pada kisah yang mungkin tak bisa di lupakan. Sesuai dengan judul yang tertera di atas yaitu "Malam Terkutuk" hehe… Kisah ini terjadi pada malam tahun baru 2008 yang lampau. Mau tahu gimana kisahnya? Yuk kita ulas terntang MALAM TERKUTUK ini. Cekidot!

Aku, abangku yang sulung beserta beberapa temannya memiliki planing nie atau yang bahasa kerennya perencanaan. Kami berencana ingin mengadakan studio cetak foto digital edisi tahun baru di sebuah pantai yang cukup masyur di daerahku. Pada hari H-2 kami sudah menyiapkan apa-apa saja yang kami perlukan nantinya di sana, dari masalah tempat, tenda dan lain-lainnya. Sehingga pada saat H-1 kami segera meluncur ketempat eksekusi, maksudnya pantai itu tadi.

Pada dua malam sebelum hari eksekusi, kami sudah menginap di rumah teman abang yang berdomisili tidak jauh dari pantai tersebut. Di sana kami mengecek barang bawaan kami kembali, mungkin ada yang ketinggalan atau belum tersiapkan gitu. Pada pagi H-1 kami melangsir barang bawaan kami ke pantai sekaligus berkenalan dengan kenalan teman abang yang kebetulan itu penanggung jawab kami di pantai itu. Pagi itu suasana masih sepi banget, dan kami masih bisa berjalan ke sana ke mari dan berfoto-foto bagaikan artis-artis berfose di tepi pantai.

Di bawah pohon nan rindang abang beserta teman-temannya yang lain menyiapkan kemah yang cukup besar untuk kami, yaitu sebagai studio foto kami nantinya dan yang satunya lagi untuk tempat kami bermalam nantinya. Kami terdiri dari beberapa team, aku dan abangku memegang bagian foto dan cetak foto, kalau teman abang ada yang jualan kartu perdana hape dan ada juga yang praktisi seni gambar kulit alias pembuat tato. Abang pembuat tato menawarkan tato kontemporer atau tato yang bisa hilang dengan sendirinya setelah berjalan beberapa waktu, tapi kalau ada yang minta tato permanen juga di sediakan oleh abang itu. Ah… kalau aku nggak mau ah ditato, walaupun nantinya bisa hilang apa lagi lagi permanen. Ih… serem!

Ketika matahari sudah mulai meninggi, ku lihat ada juga pengunjung pantai yang telah hadir. Mereka adalah sebuah keluarga kecil yang terdiri dari dua orang tua dan dua orang anak, kemudian pengunjung lain pun bermunculan juga seperti sepasang kekasih yang ingin menghabiskan waktu liburan mereka bermain pasir dengan di temani hembusan angin pantai yang segar, atau sekedar berjalan-jalan untuk memanjakan kaki mereka dengan pasir putih yang basah di pinggiran pantai. Ada juga tuh sekelompok mahasiswa yang bermain gitar sambil bernyanyi-nyanyi di pondok yang telah mereka sewa dengan melambaikan bendera yang terdapat simbol perguruan tinggi mereka. Ya.. Pada saat itu aku sih masih duduk di kelas tiga SMK. Aku melihat semua mereka terlihat bahagia sekali, seolah olah mereka tidak memiliki beban sama sekali atau melepaskan beban mereka ke pantai ini.

Kami pun mulai beraksi untuk menawarkan jasa dan produk kami kepada mereka, apakah di antara mereka yang hadir ada yang ingin di foto atau di tato hehe…. Atau sekedar membeli kartu perdana. Satu persatu aku pun mulai mengambil gambar mereka, maklumlah zaman dahulu itu belum ada tuh atau belum buming BB ataupun Android yang memiliki kulitas foto yang baik. Dengan bermodalkan kamera digital Low-End yang memiliki kualitas foto sekitar 5MP saja, tapi itu sudah cukup pada zaman itu mas bro.

Klik… klik… yap, foto pun kudapatkan dengan berbagai enggel sesuai dengan keinginan klien. "Ok mas, fotonya nanti bisa di ambil di studio kami yang ada di sana tuh, paling lama 15 menit kok, oke?" begitulah kira-kira, hehe…

Sedikit demi sedikit, rupiah pun berdatangan. Dan tanpa disadari hari pun sudah beranjak sore, dan kami bersiap siap untuk mandi dan persiapan untuk sholat magrib. Maklumlah sebagai seorang muslim yang baik, kita harus menjaga sholat lima waktu walaupun lagi sibuk cari duit. Ya… mudah-mudahan duit yang didapat nantinya jadi berkah dan usaha pun menjadi lancar.

Wah… karena orangnya juga lumayan banyak dan kamar mandinya yang cukup terbatas, sebagian dari kami terpaksa berwuduk dengan air laut. Wuih… baru kali ini wuduk dengan air laut, asin pastinya mas bro. setelah itu kami sholat berjamaah di tenda yang cukup luas itu. Hehe… pengalaman pertama sholat di pantai dengan wuduk air laut.

Setelah sholat magrib, kami pergi makan sekalian nunggu waktu isya dan setelah itu baru beraksi lagi. Abis isya inilah kami langsung patroli merazia orang yang mau di foto. Ayo berangkat untuk mengeksekusi mereka, hehehehe…

"Maaf bang! Mau difoto? Nanti bisa cetak langsung kok di studio kita di sana." aku menawarkan jasa.
"Maaf ya dek." jawab mereka singkat.

Ya nggak semua orang yang berada di sana mau difoto, mungkin mereka lagi kangker (kantong kering) alias nggak berduit, xixixixi… atau mereka lagi nggak mood aja difoto atau apalah. Kita akan kasi mereka seribu maklum untuk nggak mau difoto. Ya… kita nggak boleh suuzon terhadap mereka, atau berperasangka buruk terhadap mereka. Gitukan? Okelah kalu begitu… okelah kalau begitu…

Kami terus meronda malam itu, untuk mencari korban yang akan kami foto pada saat itu. Malam pun semakin larut, tapi puluhan sepeda motor malah berdatangan ke pantai tersebut untuk merayakan malam tahun baru di sana. Semakin malam, maka semakin banyaklah debit sepeda motor yang masuk. Astaghfirullah, apakah yang bakalan mereka lakukan berpasang-pasanagan kekasih yang mungkin mereka akan berbagi kasihnya dan berpesta ria di malam tahun baru ini. Kami pun masih melanjutkan pekerjaan kami, yaitu menelusuri pantai untuk menawarkan jasa foto digital kami kepada pengunjung pantai yang datang pada malam itu. Kemudian…..

"Eh…???" fikirku dalam hati.

Kami pun kembali ke markas tanpa membawa hasil yang memuaskan untuk malam itu.

"Ada yang difoto?" tanya abangku.
"Gimana mereka mau difoto, mereka aja dah nggak pake celana." jawab teman abangku sambil tersenyum kecil.

Begitulah pemandangan malam tahun baru yang baru saja kami saksikan dari pondok-pondok yang berjejeran di tepi pantai pada saat malam itu. Di sana ada puluhan pasangan muda mudi sedang berpesta merayakan tahun baru dengan berpasang pasangan dan masing masing mereka nggak pake celana lagi. Kira-kira, apa yang akan mereka lakukan setelahnya? Tahukah emak papaknya di rumah atas apa yang mereka lakukan pada malam terkutuk ini? Mungkin kita harus menjaga anak-anak perempuan kita dari serigala-serigala yang berkeliaran di malam tahun baru.

Pagi harinya puluhan sepeda motor itu pun meninggalkan pantai. Ya… mereka adalah puluhan pasang pemuda-pemudi yang nggak pake celana pada malam tahun baru tersebut, sepertinya. Mudah-mudahan tidak semua dari mereka yang melepaskan celananya, atau hanya sedikit saja dari mereka. Aku berharap apa yang aku lihat adalah salah, tapi itu begitu jelas terlihat di mataku.


Hari tahun baru itu kami cukup kewalahan menerima orderan dari orang yang ingin berfoto di hari tahun baru itu. Sorenya kami bergegas pulang, karena misi kami telah usai di edisi tahun baru ini. Malam tahun baru 2008 yang tak terlupakan. Ah… sungguh capek buanget hari itu. Mudah-mudahan aku tidak menjumpai malam seperti malam ini lagi.