Andi Tasmail
"Halo,
Assalamualaikum mom! Apa kabarnya pagi ini?" sapaku kepada ibuku ditelfon.
Kami
bercerita panjang lebar pagi itu, mulai bercerita tentang keadaan keluarga di
kampung dan perkembangan yang telah terjadi di kampung selagi aku tidak berada
di kampung. Maklumlah, sekarang aku sedang belajar di kota dan meninggalkan
kampung halamanku yang aku cinta dan aku rindu selalu.
"Bagaimana
keadaan anak-anak di kampung? Bagimana keadan pak ini dan pak itu? Musim apa di
kampung? ...... " begitulah biasanya pertanyaanku yang ku ajukan kepada ibuku, dan ibuku pun
menceritakan semua hal yang ku tanya dan yang ingin ku ketahui tentang warga
kampung.
Hari-hari
ini memang sangat menyibukkanku dan menyita banyak waktuku. Bagi mana tidak,
aku sekarang di angkat menjadi ketua panitian kegiatan "Safari Dakwah
Ramadhan" untuk periode kali ini. Jadi, aku berkewajiban untuk
mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah Safari Dakwah
Ramadhan ini. Eits…. Tapi tenang aja, aku di bantu teman-temanku yang lain yang
berperan sebagai panitia Safari Dakwah Ramadhan kali ini kok.
Walau
sibuk, tapi aku sempatkan waktu untuk telfon ibuku di kampung. Emang sih
kampungku tidak begitu jauh dari kota tempat aku tinggal saat ini, berkisar
antara satu setengah atau dua jam gitu.
Oh,
ia…. Ngomong-ngomong aku belum memperkenalkan diri nih! Perkenalkan, namaku
adalah Khairul Aswad tapi aku biasa menyebut diriku sendiri dengan Hero. Aku
adalah anak ke empat dari lima bersaudara, aku memiliki dua orang kakak
laki-laki dan seorang kakak perempuan dan adik perempuan. Sekarang aku sedang
kuliah di PTS di kotaku dan aku mengambil jurusan KPI (Komunikasi Penyiaran
Islam). Kalau ditanya kenapa aku masuk jurusai ini, ceritanya panjang
BUANGEEEET…. Lain kali aja ya kita ceritai, karena kali ini aku mau
menceritakan tentang hal yang lain. Dah dulu ya perkenalannya, kita sambung aja
cerita yang di atas yok! YOOOKKK…..
"Bagai
mana kabar kampung sebelah mom?" tanyaku kepada ibuku, karena disanalah
keluarga dari sebelah ibuku tinggal dan aku juga sering menghabiskan masa
kecilku di sana.
"Oh,
bagus….. Alhamdulillah mereka sehat, tapi ibu lihat di sana ada anak bulekmu si
Andi, dia kata kakek jatuh dari sepeda motor dan kepalanya terbentur keras
sampai muntah darah. Jadi dia di bawa ke sini." aku terbodoh mendengar
kabar tentang sepupuku ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan adik
sepupuku ini yang sempat muntah darak setelah kecelakaan yang menimpanya.
Setahuku, kalau orang yang terbentur kepalanya dan sempat muntah darah dan tak
sadarkan diri itu tandanya kecelakaannya parah.
Setelahnya
aku tidak lagi fokus terhadap yang dikatakan ibu kepadaku, aku hanya bisa
mengatakan "Heh… ya.. Aa… " dan sebagainya. Kemudian aku pun menutup
pembicaraanku dengan ibu.
"Mom,
dah dulu ya… nanti kita sambung lagi. Assalamualaikum!" segera aku menutup
telfonku.
Hatiku
mulai tak tenang, fikiranku kacau dan mataku pun mulai berkaca-kaca. Bagaimana
tidak, Andi adalah adik sepupuku yang aku selalu menghabiskan masa kecilku
bersamanya. Aku yang selalu ingin bermain bersamanya selalu setiap harinya, aku
sangatlah menyayanginya, dan aku selau mendoakan dia di setiap doaku. Eh… maaf,
belakangan ini aku lagi di landa sakit "M" alias "MALAS",
jadi aku nggak doa setelah sholat dan nggak nambah sholat sunnah apa lagi
tahajud. "Ya Allah, ampunkanlah aku dan lindungilah dia selalu, aku akan
rajin sholat sunnah dan tahajud dan rajin doakan dia!" emang benar aku
biasanya selalu mendoakannya, tapi pas lagi nggak didoakan….. Eh malah
kecelakaan. Nasib… nasib….
Aku
bergegas menemui kepala asrama, karena aku berniat untuk izin pulang untuk
menjenguknya. Aku menemui kepala asrama di kantornya dan aku pun menyampaikan
hajatku.
"Assalamualaikum
ustadz! Saya boleh izin pulang nggak ustadz? Soalnya adik saya
kecelakaan." begitulah ku sampaikan hajatklu kepada kepala asrama dengan
mata yang berkaca-kaca dan akhirnya air mataku pun tumpah juga di hadapan
ustadz itu. Ya… mau bagai mana lagi, aku sudah tidak bisa membendung rasa
kekhawatiran dan kecemasan hati ini. Eh… emang khawatir dan cemas itu berbeda
ya maknannya? Ah… bodoh amatlah, yang penting maksutku itu. Hehe…
Sepertinya
sang ustadz kepala asrama pun melihat kesungguhanku dan aku itu tidak main main
dan air mata ini juga bukan air mata buaya, maka aku pun diizinkan untuk pulang
ke kampung untuk menjenguk adikku itu. Aku merasa sangat senang sekali
diizinkan untuk melihat kondisi adikku itu dengan mata kepalaku sendiri.
Kemudian aku mempersiapkan keperluanku yang ingin ku bawa dan bergegas pulang.
"Tunggulah
dek, abang akan pulang…" fikirku dalam hati.
Emang
ada yang menunggu kepulanganku ya? Hehe…..
Setelah
menyetop angkot jurusan kota ke kampungku, aku pun melaju bersama angkot itu.
Aku memikirkan yang tidakitidak tentang kondisi adikku ini. Apakah dia begini
atau begitu, pokoknya cemas abis deh waktu itu. Bener nie…. Nggak bohong kok!
Memang itulah yang terjadi kawan pada hatiku.
Tapi
ngomong-ngomong, teman teman tahu nggak siapa sebenarnya adek sepupuku ini dan
kenapa aku sanagat mencemaskannya selalu dan sangat menyayanginya? Okelah kalau
begitu, aku akan menjelaskan sejarah singkat aku denagn dia.
Andi….
Nama
lengkapnya adalah Andi Tasmail dan dia biasa dipanggil dengan sebutan Andi.
Orang yang sering ku panggil kakek di sini adalah kakek si andi dari pihak
ibunya sedangkan kakeknya itu adalah adik kakekku dari pihak ibu. Masih kerabat
dekat apa udah jauh ya? Tak apalah, yang penting masih kerabat.
Kisah
ini di mulai sejak aku masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar). Pada saat itu
Andi adalah anak kecil, ya masih sanagat kecil, tapi dia sudah bisa ngomong.
Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana dekat rumah kakek. Andi memiliki
seorang kakak perempuan yang umurnya tidak cukup jauh di atasnya. Sehari-hari
aku selau mengunjungi mereka di rumah mereka dan bermain bersama mereka
terutama di sore hari. Aku sangat senang sekali waktu itu dan seolah olah tak
ingin berhenti untuk bermain-main dengannya. Akan tetapi apa boleh buat, aku
harus pulang kerumah kalau matahari hendak beristirahat di ufuk barat. Aku pun
berpamitan mau pulang kepada ibunya dan bersembunyi darinya. Tahu kenapa?
Karena dia tidak akan rela kalau aku pergi meninggalkannya, dia bakalan
menahanku dan tidak membiarkan aku pulang. Saat-saat perpisahan ini sangatlah
berat untukku, dan pastinya juga sangat berat untuknya. Terkadang dia menangis
jika mendapatiku pergi meninggalkannya dan aku juga begitu, aku juga tidak bisa
menahan air mata ini kalau berpisah dengannya. Ah…. Inilah masa-masa kecil yang
ku lewati bersamanya, tapi ini juga tidak bertahan lama. Orang tua Andi
memutuskan untuk pindah rumah ke tempat yang jauh yang aku tidak tahu di mana
tuh tempatnya. Huh… sekarang hari-hariku menjadi sepi, akan tetapi aku tidak
bisa melupakan persahabatanku dengannya. Aku menyayanginya.
Sekitar
tahun 2008 ayah Andi meninggal dunia, pada saat itu dia duduk di bangku SD
kelas 4. Ayahnya meninggal diguna-guna atau bisa disebut kena sihir atau
santet. Ayahnya di guna-guna karena menyelewengkan uang bosnya, dengarnya sih
karena desakan ekonomi. Ah… ekonomi kok mendesak-desak ya? Pada waktu sakit
itu, ayahnya sempat dirawat di rumah kakek. Pada saat itu aku baru tamat dari
SMK, dan sudah mulai bekerja di sebuah toko majalah kalau aku tidak salah
waktunya ya. Aku melihat ayahnya pada waktu itu sangatlah kurus. Wajahnya yang
ganteng dahulu tidaklah terlihat lagi, begitu juga bagannya yang kekar dahulu.
Aku tidak punya banyak waktu untuk menjenguk mereka, meskipun saat itu mereka
tinggal di rumah kakek karena aku pun memiliki kegiatan yang cukup menyita
waktuku.
Setelah
ayahnya meninggal, ibunya pun kembali pergi ke rumah mereka. Ya, maklumlah
merekakan sekarang tidak tinggal sekampung dengan kakek lagi. Kalau ibunya
pergi, jadi Andi gimana? Ya ikut pergilah pastinya. Dan kini aku harus rela
melepasnya untuk yang kedua kali. Memang sih terkadang jika lebaran aku mungkin
bertemu dengannya di rumah kakek, tapi tidak setiap lebaran juga aku bisa
bertemu dengannya. Saat itu ku dengar ibunya telah menikah lagi, tapi keadaan
ekonomi mereka pun tidak berubah jauh dari yang sebelumnya. Ah… begitulah
kehidupan ini kawan. Terkadang terlihat tidak memihak kepada kita, tapi
percayalah kalau Allah Ta'ala memiliki rencana yang lain yang lebih bailk lagi
untuk kita.
"Seharian
aku tak tenang, memikirkan kamu di sana. Ada apakah gerangan? Mungkinkah di
sana kau rasa bahagia atau malah sebaliknya? Telah lama kita tidak bertemu, tak
pernah ku dengar berita tentangmu. Apa kabar kamu sayang? Apa kabar kamu sayang
di sana?" beginilah kalau ada backshoun-nya
kali.
Sekarang
lama sudah waktu telah berlalu dan aku tak mendapatkan kabarnya lagi ketika dia
telah tamat SD dan aku pada saat itu
sudah menghabiskan tiga tahun waktuku untuk bekerja dan sekarang aku
lagi mendaftar di PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di kota. Sebelumnya aku bekerja
di toko majalah beberapa bulan, disambung bekerja di rumah makan di kota,
kemudian kembali ke kampung dan berdagang di sana beberapa bulan. Tapi kini aku
putuskan untuk menginggalkan kampung untuk menyambung kuliah di kota, akan
tetapi ada sesuatu yang membuat hati ini menjadi sangatlah miris sekali.
Sekarang aku mendengar bahwasannya Andi tidak bisa lanjut belajar ke bangku SMP
(Sekolah Menengah Perama) karena alasan tidak ada biaya. Hatiku pun hancur
seperti disambar petir di siang bolong mendengar perkataan kakek pada saat itu,
dadaku terasa panas mendengarnya.
"Kek!
Apa Andi nggak bisa di sekolahkan kek?" tanyaku kakek perlahan.
"Ya…
mau bagai mana lagi, namanya orang tuanya ibu orang susah dan nggak punya
biaya." begitulah kata kakek.
"Kakek
nggak bisa menyekolahkannya?" aku menanya kakkek kembali.
"Ya
kakek nggak sanggup, om mu juga masih sekolah, kakak Andi juga tinggal di sini
dan sekolah di sini, ya kakek manalah sanggup membiayai." jawab kakek
lemas.
Aku
pun tak habis fikir, kenapa ini yang terjadi pada adikku Andi? Kenapa nasib
tidaklah berpihak padanya? Aku terus memikirkannya dan masih memikirkannya
sampai saat ini.
"Seandainya
aku tidak melanjutkan perkuliahanku dan aku masih tetap bekerja, mungkin aku
bisa membiayainya sekolah." begitulah fikirku dalam hati. Tapi aku
tidaklah mungkin berandai-andai, dan yang lalu biarlah berlalu walau
menyakitkan hati. Sekarang yang harus ku fikirkan adalah masa kini dan yang
akan datang, karena aku tidak mungkin kembali ke masa yang telah berlalu. Aku
tidak bisa menentang kehendak Allah Ta'ala yang telah menetapkan takdir ini
untuknya, mungkin aku hanya bisa membimbingnya untuk kedepan. Oke… SEMANGAT….!
Untuk kali aku harus berusaha keras untuk menyelesaikan perkuliahanku, kemudian
setelah itu kalu bisa aku akan membimbingnya kembali.
Begitulah
aku menyemangati diriku dan menghibur hatiku yang terluka karena cinta dan
sayangku padanya. Sekarang aku tidaklah memiliki apa-apa untuknya, tidak
memiliki harta dan kemampuan yang bisa kuberikan kepadanya. Kalaulah kita ingin
memberi, maka mestilah kita memiliki sesuatu yang ingin kita beri. Tidaklah
bisa orang yang tidak memiliki apa-apa memberikan sesuatu. Aku pun menuliskan
semua perasaanku di selembar kertas dan ku simpan, surat itu ku tujukan buat
Andi dan yang satunya lagi ku tujukan buat ibunya. Setiap aku memikirkan dia,
aku menulis sebuah surat dan kemudian aku menyimpannya. Tapi jikalau aku
bertemu dengannya , aku menyerahkan surat itu untuknya dan mudah mudahan dia
mengerti betapa aku menyayanginya.
Selanjutnya
aku melanjutkan studiku di PTS di kota tanpa tahu kabarnya, tapi sekarang aku
mendapatkan kabar bahwasannya dia sedang kecelakaan dan sekarang di rawat di
rumah kakek. Mudah-mudahan dia baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkannya.
Ops…
akhirnya sampai juga di daerahku, aku turun dari angkot dan sewa becak ke
rumahku dan aku pun telah sampai di rumah.
"Loh,
kok sudah sampai rumah?" tanya ibuku heran.
"Eh…
tak apa mom, aku hanya mengkhawatirkan Andi. Oh ya mom, aku pergi dahulu
ya!" aku bergegas pergi ke rumah kakek.
Aku
segera membawa sepeda motor punya kakak laki-lakiku menuju rumah kakek.
Sesampainya di sana aku langsung masuk ke rumah kakek.
"Assalamualaikum!
Apa kabar kakek? Andi di mana?" tanyaku kakek sambil sedikit agak
ngos-ngosan.
Kakek
memberitahuku bahwa andi sedang berada di ruang tamu. Aku pun segera masuk dan
menemuinya.
"Andi,
gimana kabarnya? Apanya yang luka? Jadi gimana? Apa masih terasa sakit?"
serentetan pertanyaaan ku lontarkan kepadanya.
Sebenarnya
aku ingin saja menangis dan memeluk erat tubuhnya, tapi aku enggan
melakukannya. Sekarang Andi kecilku dahulu telah menjadi seorang remaja. Tidak habis ku fikir badan yang kecil ini
harus mencari penghidupan sendiri untuk dirinya, sedangkan aku sampai sekarang
ini masih menerima biaya ini itu dari orang tuaku.
Sejenak
aku terdiam menatapi badannya yang mungil dan legam terbakar terik matahari,
karena dia sekarang menjadi buruh kasar atau ikut tukang bangunan. Sepertinya
aku tak sanggup membayangkan kehidupannya untuk usianya yang masih terbilang
muda ini. Hati ini bagaikan tersayat-sayat melihatnya, ditambah luka yang
terdapat pada kepalanya akibat benturan yang sangat keras. Ku lihat tubuhnya
juga terdapat beberapa luka goresan, akibat dari jatuh dari sepeda motor yang
dia kenderai.
"Andi,
bagimana ceritanya kok bisa jatuh?" tanyaku padanya.
"Gini
bang, pertamanya kami naik kereta sambil main petasan pada saat malam kejadian
itu. Terus di depan kami ada tekongan dan temanku nggak bisa ngambil tekongan
itu, jadi aku tercampak dan nabrak tembok." begitulah kira-kira
jawabannya.
"Jadi,
kalian ngebutlah?" tanyaku lagi.
"Nghebut
juga sih bang." jawabnya sambil sedikit tersenyaum.
"Abis
kejadian itu aku nggak sadar. Ketika aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit
dan mamak udah ada di sana. Terus setelah itu aku dibawa mamak ke ruamah
kakek." tambahnya lagi.
"Ya
Allah, terimakasih Kau telah beri dia kesempatan yang kedua." ucapku dalam
hati.
Setelah
itu kami ngobrol santai seputar kejadian itu. Walau sepertinya kurang menarik
baginya untuk membahasnya, mungkin dia lelah menceritakan hal yang sama kepada
setiap orang yang datang berkunjung kerumah kakek. Tak apalah.
Tak
lama setelah itu aku pun beranjak pulang dari rumah kakek, dan pamitas kepada
kakek dan nenek. Dan aku berkata kepadanya aku akan sebisa mungkin untuk
menjenguknya nanti, tapi kali ini aku masih memiliki kegiatan yang nggak kalah
pentingnya. Aku pulang kerumah dan aku
pun merenungi semua yang telah menimpanya.
"Ya
Allah, aku bersyukur kepadamu atas apa semua nikmat yang telah Kau berikan
kepadaku. Aku masih memiliki keluargaku yang utuh, ayah dan ibu masih bersamaku
dan mendukungku. Ya Allah, jagalah dia Ya Allah, lindungilah dia dan berikanlah
dia kesehatan Ya Allah." begitulah yang ku fikirkan dan ku renungkan
tentangnya, bahwasannya aku masih jauh lebih beruntung dari padanya. Bagai mana
tidak, dia yang mungkin saat ini masih duduk di kelas satu SMA kalau dia
bersekolah, akan tetapi harus memenuhi kebutuhannya sendiri dan mencari
penghidupannya sendiri. Dia hidup di luar sendiri, jauh dari ibunya dan tidak
memiliki ayah walau sekarang dia telah memiliki ayah tiri. Tapi tidaklah
mungkin sama, antara kasih seorang ayah kandung dengan kasih seorang ayah tiri.
Walaupun ku dengar dari kakek, bahwasannya ayah tirinya adalah orang baik dan
bertanggung jawab. Akan tetapi keadaan perekonomian menuntut Andi harus belajar
mandiri dan berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Tanpa sadar air mata ini pun
mengalir memikirkanya dan ini acap kali terjadi padaku setiap aku merenungi
semua ini, antara aku dan dia. Ya Allah, jagalah dia untukku! Aku menyayanginya
Ya Allah.
Keesokan
harinya aku pun harus pulang untuk melaksanakan tugasku sebagai ketua panitia
Safari Dakwah Ramadhan untuk tahun ini. Dan setelah acara Safari Dakwah Ramadhan berlalu, aku masih
menyempatkan diri untuk menjenguknya atau sengaja melintasi rumah kakek, dan
berdoa agar aku berpapasan dengannya dan bisa melihat senyumannya. Karena kalau
ku rasa, dia jenuh juga kalau aku terus-terusan datang dan menghampirinya. Ya…
aku merasakan kejenuhannya, makanya aku akan mengurangi frekuensi aku bertemu
dengannya. Aku akan perhatiakn dia dari jauh aja dan mendoakan yang terbaik
untuknya aja.
"Andi,
meski kamu jauh dariku dan acuh padaku. Aku tidak akan begitu terhadapmu.
Bagiku, membuatmu bahagia dan tersenyum adalah tujuanku. Kalau kehadiranku
membuat hati kamu tak tenang dan jengkel dan setiap smsku yang hampir tak
pernah kamu balas membuat kamu kesal, maka tidak akan aku buat lagi. Maaf kalau
di surat abang, abang terlalu banyak meminta dan berharap padamu agar kamu
begini dan begitu. Tapi, itu semua abang lakukan adalah untuk kebaikanmu
sendiri menurut abang. Apabila semua itu memberatkanmu, itu pilihanmu karena
kamu sudahlah dewasa dan bukan anak-anak lagi." inilah isi hatiku yang
ingin aku sampaikan kepada Andi.
Oh,
ia… aku punya harapan kalau nanti aku tamat kuliah, aku akan membuat lapangan
kerja untuk Andi. Aku tidak ingin kehidupannya terus begitu aja. Walaupun dia
tidak sekolah, tapi aku tidak ingin dia itu menjadi bodoh dan bakal di
bodoh-bodohi orang. Aku sangat ingin meringankan meban berat yang selama ini
dia pikul dari masa kecilnya, aku ingin meringankan bebanya. Hanya itu saja
harapanku, karena aku adalah abangnya yang selalu menyayanginya walau kami
terlahir dari keluarga yang berbeda. Sekali lagi ku katakan, aku adalah
abangnya yang selalu menyayanginya.
Obi berdoa semoga cita cita abang yang mulia ini tercapai bang (✿ *´ `*) , walau Obi berbeda kepercayaan, tapi Obi percaya kalau Tuhan selalu memberikan yang terbaik buat umatnya (✿ *´ `*)
BalasHapusYa, makasih ya Bi dah mampr di bog_nya abang. Abang sangat sayang sama si Andi meski setelah perpisahan itu jadi dingin ke abang. Mungkin kasih sayang abang ke dia itu dibatas normalnya laki-laki sayang kepada laki-laki, tapi abang nggak perduli kalau dia udah berubah.... abang nggak akan pernah berubah kasih sayangnya.
HapusWhoaaa (✿ *´ `*) , Obi salut sama abang (✿ *´ `*) , pasti berat yah bang (✿ *´ `*) ! Abang yang sabar yah bang (✿ *´ `*)
HapusTerkadang kalau abang ada waktu pulang ke kampung pasti setidaknya abang keliling kampung dan melewati rumah kakek... karena Andi tinggal sama kakek. Cuma satu harapan abang.... abang ingin melihat wajahnya walau cuma sekejap mata sebelum abang harus kembali lagi ke kota untuk kuliah.Dari lubuk hati abang yang paling dalam sungguh abang sangat menyayanginya walau tidak seperti itu dia kepada abang.
BalasHapus