Kamis, 19 Februari 2015

Andi Tasmail

Andi Tasmail

"Halo, Assalamualaikum mom! Apa kabarnya pagi ini?" sapaku kepada ibuku ditelfon.

Kami bercerita panjang lebar pagi itu, mulai bercerita tentang keadaan keluarga di kampung dan perkembangan yang telah terjadi di kampung selagi aku tidak berada di kampung. Maklumlah, sekarang aku sedang belajar di kota dan meninggalkan kampung halamanku yang aku cinta dan aku rindu selalu.

"Bagaimana keadaan anak-anak di kampung? Bagimana keadan pak ini dan pak itu? Musim apa di kampung? ...... " begitulah biasanya pertanyaanku yang ku  ajukan kepada ibuku, dan ibuku pun menceritakan semua hal yang ku tanya dan yang ingin ku ketahui tentang warga kampung.

Hari-hari ini memang sangat menyibukkanku dan menyita banyak waktuku. Bagi mana tidak, aku sekarang di angkat menjadi ketua panitian kegiatan "Safari Dakwah Ramadhan" untuk periode kali ini. Jadi, aku berkewajiban untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah Safari Dakwah Ramadhan ini. Eits…. Tapi tenang aja, aku di bantu teman-temanku yang lain yang berperan sebagai panitia Safari Dakwah Ramadhan kali ini kok.

Walau sibuk, tapi aku sempatkan waktu untuk telfon ibuku di kampung. Emang sih kampungku tidak begitu jauh dari kota tempat aku tinggal saat ini, berkisar antara satu setengah atau dua jam gitu.

Oh, ia…. Ngomong-ngomong aku belum memperkenalkan diri nih! Perkenalkan, namaku adalah Khairul Aswad tapi aku biasa menyebut diriku sendiri dengan Hero. Aku adalah anak ke empat dari lima bersaudara, aku memiliki dua orang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan dan adik perempuan. Sekarang aku sedang kuliah di PTS di kotaku dan aku mengambil jurusan KPI (Komunikasi Penyiaran Islam). Kalau ditanya kenapa aku masuk jurusai ini, ceritanya panjang BUANGEEEET…. Lain kali aja ya kita ceritai, karena kali ini aku mau menceritakan tentang hal yang lain. Dah dulu ya perkenalannya, kita sambung aja cerita yang di atas yok! YOOOKKK…..

"Bagai mana kabar kampung sebelah mom?" tanyaku kepada ibuku, karena disanalah keluarga dari sebelah ibuku tinggal dan aku juga sering menghabiskan masa kecilku di sana.

"Oh, bagus….. Alhamdulillah mereka sehat, tapi ibu lihat di sana ada anak bulekmu si Andi, dia kata kakek jatuh dari sepeda motor dan kepalanya terbentur keras sampai muntah darah. Jadi dia di bawa ke sini." aku terbodoh mendengar kabar tentang sepupuku ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan adik sepupuku ini yang sempat muntah darak setelah kecelakaan yang menimpanya. Setahuku, kalau orang yang terbentur kepalanya dan sempat muntah darah dan tak sadarkan diri itu tandanya kecelakaannya parah.

Setelahnya aku tidak lagi fokus terhadap yang dikatakan ibu kepadaku, aku hanya bisa mengatakan "Heh… ya.. Aa… " dan sebagainya. Kemudian aku pun menutup pembicaraanku dengan ibu.

"Mom, dah dulu ya… nanti kita sambung lagi. Assalamualaikum!" segera aku menutup telfonku.

Hatiku mulai tak tenang, fikiranku kacau dan mataku pun mulai berkaca-kaca. Bagaimana tidak, Andi adalah adik sepupuku yang aku selalu menghabiskan masa kecilku bersamanya. Aku yang selalu ingin bermain bersamanya selalu setiap harinya, aku sangatlah menyayanginya, dan aku selau mendoakan dia di setiap doaku. Eh… maaf, belakangan ini aku lagi di landa sakit "M" alias "MALAS", jadi aku nggak doa setelah sholat dan nggak nambah sholat sunnah apa lagi tahajud. "Ya Allah, ampunkanlah aku dan lindungilah dia selalu, aku akan rajin sholat sunnah dan tahajud dan rajin doakan dia!" emang benar aku biasanya selalu mendoakannya, tapi pas lagi nggak didoakan….. Eh malah kecelakaan. Nasib… nasib….

Aku bergegas menemui kepala asrama, karena aku berniat untuk izin pulang untuk menjenguknya. Aku menemui kepala asrama di kantornya dan aku pun menyampaikan hajatku.

"Assalamualaikum ustadz! Saya boleh izin pulang nggak ustadz? Soalnya adik saya kecelakaan." begitulah ku sampaikan hajatklu kepada kepala asrama dengan mata yang berkaca-kaca dan akhirnya air mataku pun tumpah juga di hadapan ustadz itu. Ya… mau bagai mana lagi, aku sudah tidak bisa membendung rasa kekhawatiran dan kecemasan hati ini. Eh… emang khawatir dan cemas itu berbeda ya maknannya? Ah… bodoh amatlah, yang penting maksutku itu. Hehe…

Sepertinya sang ustadz kepala asrama pun melihat kesungguhanku dan aku itu tidak main main dan air mata ini juga bukan air mata buaya, maka aku pun diizinkan untuk pulang ke kampung untuk menjenguk adikku itu. Aku merasa sangat senang sekali diizinkan untuk melihat kondisi adikku itu dengan mata kepalaku sendiri. Kemudian aku mempersiapkan keperluanku yang ingin ku bawa dan bergegas pulang.

"Tunggulah dek, abang akan pulang…" fikirku dalam hati.

Emang ada yang menunggu kepulanganku ya? Hehe…..

Setelah menyetop angkot jurusan kota ke kampungku, aku pun melaju bersama angkot itu. Aku memikirkan yang tidakitidak tentang kondisi adikku ini. Apakah dia begini atau begitu, pokoknya cemas abis deh waktu itu. Bener nie…. Nggak bohong kok! Memang itulah yang terjadi kawan pada hatiku.

Tapi ngomong-ngomong, teman teman tahu nggak siapa sebenarnya adek sepupuku ini dan kenapa aku sanagat mencemaskannya selalu dan sangat menyayanginya? Okelah kalau begitu, aku akan menjelaskan sejarah singkat aku denagn dia.

Andi….

Nama lengkapnya adalah Andi Tasmail dan dia biasa dipanggil dengan sebutan Andi. Orang yang sering ku panggil kakek di sini adalah kakek si andi dari pihak ibunya sedangkan kakeknya itu adalah adik kakekku dari pihak ibu. Masih kerabat dekat apa udah jauh ya? Tak apalah, yang penting masih kerabat.

Kisah ini di mulai sejak aku masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar). Pada saat itu Andi adalah anak kecil, ya masih sanagat kecil, tapi dia sudah bisa ngomong. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana dekat rumah kakek. Andi memiliki seorang kakak perempuan yang umurnya tidak cukup jauh di atasnya. Sehari-hari aku selau mengunjungi mereka di rumah mereka dan bermain bersama mereka terutama di sore hari. Aku sangat senang sekali waktu itu dan seolah olah tak ingin berhenti untuk bermain-main dengannya. Akan tetapi apa boleh buat, aku harus pulang kerumah kalau matahari hendak beristirahat di ufuk barat. Aku pun berpamitan mau pulang kepada ibunya dan bersembunyi darinya. Tahu kenapa? Karena dia tidak akan rela kalau aku pergi meninggalkannya, dia bakalan menahanku dan tidak membiarkan aku pulang. Saat-saat perpisahan ini sangatlah berat untukku, dan pastinya juga sangat berat untuknya. Terkadang dia menangis jika mendapatiku pergi meninggalkannya dan aku juga begitu, aku juga tidak bisa menahan air mata ini kalau berpisah dengannya. Ah…. Inilah masa-masa kecil yang ku lewati bersamanya, tapi ini juga tidak bertahan lama. Orang tua Andi memutuskan untuk pindah rumah ke tempat yang jauh yang aku tidak tahu di mana tuh tempatnya. Huh… sekarang hari-hariku menjadi sepi, akan tetapi aku tidak bisa melupakan persahabatanku dengannya. Aku menyayanginya.

Sekitar tahun 2008 ayah Andi meninggal dunia, pada saat itu dia duduk di bangku SD kelas 4. Ayahnya meninggal diguna-guna atau bisa disebut kena sihir atau santet. Ayahnya di guna-guna karena menyelewengkan uang bosnya, dengarnya sih karena desakan ekonomi. Ah… ekonomi kok mendesak-desak ya? Pada waktu sakit itu, ayahnya sempat dirawat di rumah kakek. Pada saat itu aku baru tamat dari SMK, dan sudah mulai bekerja di sebuah toko majalah kalau aku tidak salah waktunya ya. Aku melihat ayahnya pada waktu itu sangatlah kurus. Wajahnya yang ganteng dahulu tidaklah terlihat lagi, begitu juga bagannya yang kekar dahulu. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjenguk mereka, meskipun saat itu mereka tinggal di rumah kakek karena aku pun memiliki kegiatan yang cukup menyita waktuku.

Setelah ayahnya meninggal, ibunya pun kembali pergi ke rumah mereka. Ya, maklumlah merekakan sekarang tidak tinggal sekampung dengan kakek lagi. Kalau ibunya pergi, jadi Andi gimana? Ya ikut pergilah pastinya. Dan kini aku harus rela melepasnya untuk yang kedua kali. Memang sih terkadang jika lebaran aku mungkin bertemu dengannya di rumah kakek, tapi tidak setiap lebaran juga aku bisa bertemu dengannya. Saat itu ku dengar ibunya telah menikah lagi, tapi keadaan ekonomi mereka pun tidak berubah jauh dari yang sebelumnya. Ah… begitulah kehidupan ini kawan. Terkadang terlihat tidak memihak kepada kita, tapi percayalah kalau Allah Ta'ala memiliki rencana yang lain yang lebih bailk lagi untuk kita.

"Seharian aku tak tenang, memikirkan kamu di sana. Ada apakah gerangan? Mungkinkah di sana kau rasa bahagia atau malah sebaliknya? Telah lama kita tidak bertemu, tak pernah ku dengar berita tentangmu. Apa kabar kamu sayang? Apa kabar kamu sayang di sana?" beginilah kalau ada backshoun-nya kali.

Sekarang lama sudah waktu telah berlalu dan aku tak mendapatkan kabarnya lagi ketika dia telah tamat SD dan aku pada saat itu  sudah menghabiskan tiga tahun waktuku untuk bekerja dan sekarang aku lagi mendaftar di PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di kota. Sebelumnya aku bekerja di toko majalah beberapa bulan, disambung bekerja di rumah makan di kota, kemudian kembali ke kampung dan berdagang di sana beberapa bulan. Tapi kini aku putuskan untuk menginggalkan kampung untuk menyambung kuliah di kota, akan tetapi ada sesuatu yang membuat hati ini menjadi sangatlah miris sekali. Sekarang aku mendengar bahwasannya Andi tidak bisa lanjut belajar ke bangku SMP (Sekolah Menengah Perama) karena alasan tidak ada biaya. Hatiku pun hancur seperti disambar petir di siang bolong mendengar perkataan kakek pada saat itu, dadaku terasa panas mendengarnya.

"Kek! Apa Andi nggak bisa di sekolahkan kek?" tanyaku kakek perlahan.
"Ya… mau bagai mana lagi, namanya orang tuanya ibu orang susah dan nggak punya biaya." begitulah kata kakek.
"Kakek nggak bisa menyekolahkannya?" aku menanya kakkek kembali.
"Ya kakek nggak sanggup, om mu juga masih sekolah, kakak Andi juga tinggal di sini dan sekolah di sini, ya kakek manalah sanggup membiayai." jawab kakek lemas.

Aku pun tak habis fikir, kenapa ini yang terjadi pada adikku Andi? Kenapa nasib tidaklah berpihak padanya? Aku terus memikirkannya dan masih memikirkannya sampai saat ini.

"Seandainya aku tidak melanjutkan perkuliahanku dan aku masih tetap bekerja, mungkin aku bisa membiayainya sekolah." begitulah fikirku dalam hati. Tapi aku tidaklah mungkin berandai-andai, dan yang lalu biarlah berlalu walau menyakitkan hati. Sekarang yang harus ku fikirkan adalah masa kini dan yang akan datang, karena aku tidak mungkin kembali ke masa yang telah berlalu. Aku tidak bisa menentang kehendak Allah Ta'ala yang telah menetapkan takdir ini untuknya, mungkin aku hanya bisa membimbingnya untuk kedepan. Oke… SEMANGAT….! Untuk kali aku harus berusaha keras untuk menyelesaikan perkuliahanku, kemudian setelah itu kalu bisa aku akan membimbingnya kembali.

Begitulah aku menyemangati diriku dan menghibur hatiku yang terluka karena cinta dan sayangku padanya. Sekarang aku tidaklah memiliki apa-apa untuknya, tidak memiliki harta dan kemampuan yang bisa kuberikan kepadanya. Kalaulah kita ingin memberi, maka mestilah kita memiliki sesuatu yang ingin kita beri. Tidaklah bisa orang yang tidak memiliki apa-apa memberikan sesuatu. Aku pun menuliskan semua perasaanku di selembar kertas dan ku simpan, surat itu ku tujukan buat Andi dan yang satunya lagi ku tujukan buat ibunya. Setiap aku memikirkan dia, aku menulis sebuah surat dan kemudian aku menyimpannya. Tapi jikalau aku bertemu dengannya , aku menyerahkan surat itu untuknya dan mudah mudahan dia mengerti betapa aku menyayanginya.

Selanjutnya aku melanjutkan studiku di PTS di kota tanpa tahu kabarnya, tapi sekarang aku mendapatkan kabar bahwasannya dia sedang kecelakaan dan sekarang di rawat di rumah kakek. Mudah-mudahan dia baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkannya.

Ops… akhirnya sampai juga di daerahku, aku turun dari angkot dan sewa becak ke rumahku dan aku pun telah sampai di rumah.

"Loh, kok sudah sampai rumah?" tanya ibuku heran.
"Eh… tak apa mom, aku hanya mengkhawatirkan Andi. Oh ya mom, aku pergi dahulu ya!" aku bergegas pergi ke rumah kakek.

Aku segera membawa sepeda motor punya kakak laki-lakiku menuju rumah kakek. Sesampainya di sana aku langsung masuk ke rumah kakek.

"Assalamualaikum! Apa kabar kakek? Andi di mana?" tanyaku kakek sambil sedikit agak ngos-ngosan.

Kakek memberitahuku bahwa andi sedang berada di ruang tamu. Aku pun segera masuk dan menemuinya.

"Andi, gimana kabarnya? Apanya yang luka? Jadi gimana? Apa masih terasa sakit?" serentetan pertanyaaan ku lontarkan kepadanya.

Sebenarnya aku ingin saja menangis dan memeluk erat tubuhnya, tapi aku enggan melakukannya. Sekarang Andi kecilku dahulu telah menjadi seorang remaja.  Tidak habis ku fikir badan yang kecil ini harus mencari penghidupan sendiri untuk dirinya, sedangkan aku sampai sekarang ini masih menerima biaya ini itu dari orang tuaku.

Sejenak aku terdiam menatapi badannya yang mungil dan legam terbakar terik matahari, karena dia sekarang menjadi buruh kasar atau ikut tukang bangunan. Sepertinya aku tak sanggup membayangkan kehidupannya untuk usianya yang masih terbilang muda ini. Hati ini bagaikan tersayat-sayat melihatnya, ditambah luka yang terdapat pada kepalanya akibat benturan yang sangat keras. Ku lihat tubuhnya juga terdapat beberapa luka goresan, akibat dari jatuh dari sepeda motor yang dia kenderai.

"Andi, bagimana ceritanya kok bisa jatuh?" tanyaku padanya.
"Gini bang, pertamanya kami naik kereta sambil main petasan pada saat malam kejadian itu. Terus di depan kami ada tekongan dan temanku nggak bisa ngambil tekongan itu, jadi aku tercampak dan nabrak tembok." begitulah kira-kira jawabannya.
"Jadi, kalian ngebutlah?" tanyaku lagi.
"Nghebut juga sih bang." jawabnya sambil sedikit tersenyaum.
"Abis kejadian itu aku nggak sadar. Ketika aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit dan mamak udah ada di sana. Terus setelah itu aku dibawa mamak ke ruamah kakek." tambahnya lagi.
"Ya Allah, terimakasih Kau telah beri dia kesempatan yang kedua." ucapku dalam hati.

Setelah itu kami ngobrol santai seputar kejadian itu. Walau sepertinya kurang menarik baginya untuk membahasnya, mungkin dia lelah menceritakan hal yang sama kepada setiap orang yang datang berkunjung kerumah kakek. Tak apalah.

Tak lama setelah itu aku pun beranjak pulang dari rumah kakek, dan pamitas kepada kakek dan nenek. Dan aku berkata kepadanya aku akan sebisa mungkin untuk menjenguknya nanti, tapi kali ini aku masih memiliki kegiatan yang nggak kalah pentingnya. Aku  pulang kerumah dan aku pun merenungi semua yang telah menimpanya.

"Ya Allah, aku bersyukur kepadamu atas apa semua nikmat yang telah Kau berikan kepadaku. Aku masih memiliki keluargaku yang utuh, ayah dan ibu masih bersamaku dan mendukungku. Ya Allah, jagalah dia Ya Allah, lindungilah dia dan berikanlah dia kesehatan Ya Allah." begitulah yang ku fikirkan dan ku renungkan tentangnya, bahwasannya aku masih jauh lebih beruntung dari padanya. Bagai mana tidak, dia yang mungkin saat ini masih duduk di kelas satu SMA kalau dia bersekolah, akan tetapi harus memenuhi kebutuhannya sendiri dan mencari penghidupannya sendiri. Dia hidup di luar sendiri, jauh dari ibunya dan tidak memiliki ayah walau sekarang dia telah memiliki ayah tiri. Tapi tidaklah mungkin sama, antara kasih seorang ayah kandung dengan kasih seorang ayah tiri. Walaupun ku dengar dari kakek, bahwasannya ayah tirinya adalah orang baik dan bertanggung jawab. Akan tetapi keadaan perekonomian menuntut Andi harus belajar mandiri dan berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Tanpa sadar air mata ini pun mengalir memikirkanya dan ini acap kali terjadi padaku setiap aku merenungi semua ini, antara aku dan dia. Ya Allah, jagalah dia untukku! Aku menyayanginya Ya Allah.

Keesokan harinya aku pun harus pulang untuk melaksanakan tugasku sebagai ketua panitia Safari Dakwah Ramadhan untuk tahun ini. Dan setelah acara Safari  Dakwah Ramadhan berlalu, aku masih menyempatkan diri untuk menjenguknya atau sengaja melintasi rumah kakek, dan berdoa agar aku berpapasan dengannya dan bisa melihat senyumannya. Karena kalau ku rasa, dia jenuh juga kalau aku terus-terusan datang dan menghampirinya. Ya… aku merasakan kejenuhannya, makanya aku akan mengurangi frekuensi aku bertemu dengannya. Aku akan perhatiakn dia dari jauh aja dan mendoakan yang terbaik untuknya aja.

"Andi, meski kamu jauh dariku dan acuh padaku. Aku tidak akan begitu terhadapmu. Bagiku, membuatmu bahagia dan tersenyum adalah tujuanku. Kalau kehadiranku membuat hati kamu tak tenang dan jengkel dan setiap smsku yang hampir tak pernah kamu balas membuat kamu kesal, maka tidak akan aku buat lagi. Maaf kalau di surat abang, abang terlalu banyak meminta dan berharap padamu agar kamu begini dan begitu. Tapi, itu semua abang lakukan adalah untuk kebaikanmu sendiri menurut abang. Apabila semua itu memberatkanmu, itu pilihanmu karena kamu sudahlah dewasa dan bukan anak-anak lagi." inilah isi hatiku yang ingin aku sampaikan kepada Andi.


Oh, ia… aku punya harapan kalau nanti aku tamat kuliah, aku akan membuat lapangan kerja untuk Andi. Aku tidak ingin kehidupannya terus begitu aja. Walaupun dia tidak sekolah, tapi aku tidak ingin dia itu menjadi bodoh dan bakal di bodoh-bodohi orang. Aku sangat ingin meringankan meban berat yang selama ini dia pikul dari masa kecilnya, aku ingin meringankan bebanya. Hanya itu saja harapanku, karena aku adalah abangnya yang selalu menyayanginya walau kami terlahir dari keluarga yang berbeda. Sekali lagi ku katakan, aku adalah abangnya yang selalu menyayanginya.

4 komentar:

  1. Obi berdoa semoga cita cita abang yang mulia ini tercapai bang (✿ *´ `*) , walau Obi berbeda kepercayaan, tapi Obi percaya kalau Tuhan selalu memberikan yang terbaik buat umatnya (✿ *´ `*)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, makasih ya Bi dah mampr di bog_nya abang. Abang sangat sayang sama si Andi meski setelah perpisahan itu jadi dingin ke abang. Mungkin kasih sayang abang ke dia itu dibatas normalnya laki-laki sayang kepada laki-laki, tapi abang nggak perduli kalau dia udah berubah.... abang nggak akan pernah berubah kasih sayangnya.

      Hapus
    2. Whoaaa (✿ *´ `*) , Obi salut sama abang (✿ *´ `*) , pasti berat yah bang (✿ *´ `*) ! Abang yang sabar yah bang (✿ *´ `*)

      Hapus
  2. Terkadang kalau abang ada waktu pulang ke kampung pasti setidaknya abang keliling kampung dan melewati rumah kakek... karena Andi tinggal sama kakek. Cuma satu harapan abang.... abang ingin melihat wajahnya walau cuma sekejap mata sebelum abang harus kembali lagi ke kota untuk kuliah.Dari lubuk hati abang yang paling dalam sungguh abang sangat menyayanginya walau tidak seperti itu dia kepada abang.

    BalasHapus