Minggu, 22 Februari 2015

Riwayatmu Dulu

"Teringat akan masa yang lalu, di waktu kita masih bersama di sana." sebuah lirik yang ku buat dahulu.

Kali ini aku akan bercerita tentang teman masa keciku dahulu. Dia dan aku sangatlah akrab dan dekat, di samping rumah kami yang juga berdekaran ketika kami masih kecil dahulu. Tapi persahabatanku denagnnya tentulah lebih dekat lagi.

"20 tahun bukanlah waktu yang singkat." aku terus memikirkan hal ini dan air mata ini mulailah mengalir tanpa henti.

Perlahan tanah itu pun mulai di jatuhkan, kini aku sudah tidak melihatmu lagi teman. Aku tidaklah bisa menahan tangisku dan menyembunyikan kesedihanku. Walaupun kelihatannya malu dah gedek kok nangis, tapi inilah kenyataanya. Mayat yang terbujur kaku yang sedang di kebumikan warga adalah jenazah temanku, yang sudah ku anggap saudaraku sendiri sejak saat dahulu. Orang-orang pun mulai memperhatikanku yang mulai menangis, walau aku tidaklah histeris seperti ibu-ibu yang kehilangan putra kesayangannya. Hanya saja aku, tidak bisa menahan air mata ini mengalir di pipiku.

"Siapa dia?" tanya uak temanku itu kepada kakak perempuannya ketika melihatku menagis dan tak henti-hentinya menyeka air mataku yang tumpah.
"Oh, itu temannya itu wak." jawab kakak Zainal.

Di saat itu aku hanya berfikir, inilah akhir dari persahabatanku dengannya. Padahal persahabatanku tidaklah berhenti begitu saja dengannya, aku masih bisa mendoakannya di setiap selesai sholatku. Maaf, aku tak bisa memberikan apa-apa lagi untuknya melainkan hanya doaku saja.

"20 tahun bukanlah waktu yang singkat." ucapanku ini masih terngiang-ngiang di telingaku.

Sekitar 20 tahun yang lalu aku masihlah bocah balita yang hobinya main tanah di bawah kolong rumahku. Maklumlah, dahulu rumah kami adalah rumah panggung yang terbuat dari papan. Temanku itu namanya Zainal, Zainal Abidin. Dia adalah teman pertamaku saat itu, dan kami masih sama-sama balita. Keluarga kami cukuplah akrab, bagi ibuku Zainal, kakak-kakak dan adiknya bukanlah orang lain lagi. Bagi ibu, mereka sudah seperti anak sendiri bagi ibu. Rumah Zainal terletak di belakang rumahku pada saat itu, dan kami selalu bermain bersama. Mereka sering di tinggal oleh orang tua mereka, karena ibu dan ayah mereka pergi bekerja. Sedangkan ibuku selalu berada di ruamah sebagai ibu rumah tangga yang baik, yang selalu bersama dan menjaga anak-anaknya yang sedang bermain di halaman rumahnya sambil memasak di dapur. Itu juga yang membuat kami dekat dengan keluarga temanku ini, karena Zainal dan kakak-kakaknya sering di tinggalkan orang tuanya, maka mereka sering main ke rumahku.

Kehidupan keluarga Zainal pun tidak berjalan dengan harmonis, di sana terdapat problematika rumah tangga yang mengakibatkan ibu dan ayahya berpisah. Sekarang ibunyalah yang menjadi tulang punggung keluarga merekadan aku tidak mengetahui ke mana ayahnya pergi.

Waktu teruslah bergulir dengan cepatnya, aku dan zainal telah memasuki SD (Sekolah Dasar). Aku dan dia selalu bersama, bahkan kami adalah teman sebangku. Walau terkadang aku juga berkelahi dengannya, tapi keesokan harinya kami tetap saja berteman. Begitulah kehidupan anak SD pada masa itu, tidak menyimpan rasa dendam. Tanpa disadari aku telah menghabiskan tiga tahunku dengan duduk bersebelahan dengannya, walau aku sudah pindah rumah pada masa aku kelas satu SD. Meski aku telah pindah rumah, tapi kami tetap teman sekampung.

Pernah suatu ketika saat rumah kami masih berseberangan oleh parit kecil, kami disuruh oleh ibunya untuk mengambil belanjaan yang dititipkan ibunya di kedai yang lumayan jauh sih dari rumah kami. Setelah sampai di kedai yang di maksud ibunya, kami pun kembali pulang membawa belanjaan tersebut. Belanjaannya tidak banyak sih, hanya daun ubi beberapa ikat dan ikan laut yang terletak pada sebuah pelastik asoi. Aku bertugas membawa daun ubi tersebut dan Zainal membawa ikan itu dalam perjalanan pulang kami. Pada saat itu kami tengah melintasi rumah penduduk yang beragama nasrani, mereka adalah orang-orang batak toba yang ada di kampung kami. Tiba-tiba di tengah perjalanan, Zainal meminta untuk mertukaran barang. Sekarang aku disuruhnya membawa ikan dan dia yang membawa daun ubi tersebut. Tapi tak lama setelah beberapa langkah dari tempat itu, beberapa ekor anak anjing mengejarku dan mengelilingiku. Mereka tertarik dengan apa yang aku bawa tersebut. Aku pun ketakutan dan akhirnya menangis di kelilingi oleh anak-anak anjing tersebut. Tak lama setelah itu, sang pemilik anjing pun keluar dari rumahnya dan memanggil anak-anak anjing tersebut sehingga aku bisa melintas. Ku lihat Zainal temanku tenang-tenang saja beberapa meter di depanku tanpa ada masalah, karena anak-anak anjing tersebut tidaklah menginginkan apa yang dia bawa sekarang. Huh… kesel banget saat itu. Tapi kenganan ini tak bisa ku lupakan bersamanya.

Perkembanganku dengan Zainal berbanding terbalik. Dia yang awal-awalnya pintar, terus merosot prestasinya. Sedangkan aku pertamanya aja hampir tinggal kelas, tapi aku pada akhir kelas VI SD mendapat peringkat III. Setelah itu aku dan Zainal pun berniat untuk melanjutka sekolah kami di SMPN faforit di daerah kami. Kami mendaftar di sekolah itu dan menyertakan berkas-berkas yang di butuhkan untuk mendaftar dan setelahnya menunggu pengumuman. Dan setelah pengumuman kelulusan ditempel, aku tidak melihat nama temanku itu. Aku hanya melihat namaku saja yang keluar, dan aku mengerti bahwasannya temanku iti tidaklah lulus untuk masuk SMP yang kami idam-idamkan itu.

Aku akhirnya melanjutkan studiku di sana, sedangkan Zainal melanjutkan studinya di SMP swasta yang tidak begitu jauh sih dari rumahku. Setelah berjalannya waktu kami menjalani kehidupan baru kami menjadi anak SMP atau bisa dibilang anak yang baru gede itu, aku mendapati Zainal berkembang ke sisi yang gelap. Sekarang ku lihat dia, sering merokok, bolos sekolah, dan ku dengar bahwasannya dia sering berjudi dan minum minuman keras. Sekarang sifatnya pun semakin menjengkelkan, karena Zainal yang sekarang bukanlah Zainal yang dahulu aku kenal.

Sering sekali ketika aku berangkat sekolah, dia menahanku dan meminta uang dariku. Dia mengatakan kalau dia harus membayar uang sekolah dan uang buku atau lain sebagainya, atau dia tidak boleh masuk sekolah karena belum melunasi semua itu. Aku pun bertanya kenapanya dia bisa menunggak sebanyak itu, kemudian dia menjawab bahwasannya dia telah menggelapkan uang yang telah diberikan oleh ibunya. Dia pun mengikutiku sampai ke depan gerbang sekolahku, dan tidak membiarkan aku masuk sebelum aku memberikannya uang. Aku pun terpaksa memberikan uangku kepadanya, tapi aku bilang kepadanya harus di bayarkan untuk uang sekolah atau uang buku. Aku berharap padanya agar dia menjauhi masalah-masalah yang seperti itu. Tapi kejadian itu masih saja berulang dan berulang lagi. Aku jadi serba salah jadinya kalau terus-terusan begini, tapi aku tidak bisa marah padanya karena dia bagaikan saudaraku sendiri. Aku hanya bisa bersabar dan berdoa aja untuk itu, semoga dia bisa berubah. Itu saja.

Aku mendengar bahwa Zainal mendapat banyak permasalahan di sekolahnya, dan sepertinya tidak ada manusiapun di sana yang tidak mengenal dia dengan kelakuannya itu. Dia juga terikat banyak hutang dan selalu diburu oleh teman-teman sepermainannya. Aku hanya berfikir kenapa ini bisa terjadi padanya. Permasalahnnya semakin banyak dan akhirnya dia harus dikeluarkan dari sekolahnya. Selanjutnya ku dengar dia pergi ke tempat ayahnya di daerah Pekanbaru dan melanjutkan sekolah disana, tapi itu tidak lama. Dia pun kembali dan bersekolah di sebuah sekolah di daerah kami. Tapi pada saat itu aku sudah tamat SMP dan aku masuk sekolah SMK di kampung sebelah. Zainal masih saja sebagai siswa SMP yang terikat banyak sekali masalah, dan dia saat itu duduk di kelas III SMP.

Aku tidak tahu harus bilang bagai mana lagi padanya. Dia terlalu banyak terlibat permasalahan dan merepotkan semua anggota keluarganya, dan nggak bisa meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Di daerakhu saja dia sangat terkenal dikalangan anak-anak yang seumuran denganku, hanya saja dia bukan tipe pereman yang hobi berkelahi. Ayahku melarang aku untuk berteman dengannya, dan dia juga mengetahui hal itu. Makanya tiap kali dia bersamaku dan aku kami hendak pulang, maka ketika sudah dekat dengan rumahku, kami berpisah dan aku masuk dahulu ke rumahku kemudian barulah dia melintasi rumahku setelah beberapa menit kemudian. Dia juga tahu, aku bakalan kena marah ayahku jika jalan bersamanya. Menurut ayahku, dia bakalan membawa aura negatif dalam hidupku dan membuatku mendapatkan banyak masalah jika berteman dengannya. Tapi yang jadi permasalahannya, dia tidaklah memiliki teman yang bisa menasehati dia dan yang mengingatkan dia selalu kalau bukan aku.

Di keluarganya, Zainal menjadi sorotan. Sekarang ibunya hiperprotect sekali kepadanya. Dia tidak boleh keluar rumah, tidak boleh pergi ke sini, apa lagi ke situ, nggak boleh berteman dengan si A apa lagi si Z, kalau mau berteman dengan si E aja. Begitulah kira-kira perlindungan yang menyeluruh yang diberikan ibunya kepadanya. Emang sih, kalu dia kembali ke lingkungannya yang sebelumnya itu tidak baik, tapi bagaimana jadinya kalau dia hampir dilarang berteman secara mutlak. Karena setauku, kebanyakan teman-temannya ya… begitulah modelnya.

Setelah Zainal menyelesaikan sekolah SMP-nya, maka dia memutuskan untuk ikut kerja bangunan di Aceh pasca tsunami. Aku juga tidak habis fikir dia pergi kesana, padahal setahuku dia tidak memiliki skill untuk kerja berat seperti kerja bangunan. Tapi itulah yang dia pilih, jadi mau buat apa lagi.

Sebulan atau lebih sedikit dari pada itu telah berlalu, tatkala itu aku sedang mengendarai sepeda motor milik abangku. Aku berselisih dengan seseorang yang postur badannya didaklah lebih tinggi dariku, berkulit hitam, tidak memakai baju, sambil berlari di jalanan dengan membawa sepotong pelepah sawit yang memiliki banyak duri.

"Dek! Antarkan kakak ke sana dek, kejarkan dia" pinta kakaknya padaku sambil berlari mengahampiriku.

Orang tadi yang berselisih denganku adalah temanku sendiri, Zainal. Aku pun tak habis fikir kenapa tingkahnya aneh seperti ini. "Apa yang telah terjadi di sana (di perantauannya)?" tanyaku dalam hati.

Aku dan kakaknya pun menghamipirinya dengan sepeda motor, akan tetapi dia pun langsung mengayunkan pelepah sawit yang penuh duri itu ke arah kami. Ops… aku pun menghindar dan akhirnya sepeda motar itu pun lengser di tanah. Kakaknya pun menjerit dan menangis, sehingga warga merkeluaran dari rumahnya dan menyaksikan kami, kemudian dia pun pergi berlari seperti tadi meninggalkan kami. Pada saat itu kami berada di pemukiman warga batak toba yang mereka itu beragama nasrani. Kakaknya pun terus berlari mengikutinya, disusul dengan adik perempuannya. Mereka mencoba meminta warga untuk menangkap temanku itu, tapi warga pun enggan membantu karena Zainal yang sekarang telah hilang akal sehatnya yang mencoba menebas kami tadi dengan pelepah sawit yang berduri banyak itu. Selanjutnya aku tidak tahu pasti apa yang terjadi di jalanan itu dan aku akhirnya pulang ke rumahku. Itulah pertemuan pertamaku dengannya setelah dia pulang dari merantau.

Pada malamnya kami berkumpul semua berkumpul di rumahnya tanpa ada yang mengkomandoi, tapi ku lihat semua pemuda desa terlah hadir atau sebagian mereka telah datang dan pergi. Kami melihat kondisinya sangatlah miris sekali, dia bahkan tidak mengenali kami semua dan sepertinya bukan dia lagi yang menguasai jasadnya melainkan jin-jin entah dari mana. Ku lihat berbagai pemuda kampung berusaha mengembalikan ingatan dan kesadarannya, bahkan di sana ada dukun yang mencoba turun tangan. Ah… semuanya menjadi kacau dan kacau sekali. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi dan akhirnya dia pun di pasung oleh orang tuanya.

Beberapa tahun telah berlalu dan kondisinya masihlah tidak berubah jauh dari pertama kulihat kembali dari perantauannya. Orang tua dan kakak-kakaknya sudahlah capek mengobatinya ke sana ke mari, dari rumah sakit yang satu ke dukun yang lain dan dari dukun yang satu ke rumah sakit yang lain. Begitulah keadaanya dan keluarganya mengaharapkan kesembuhan untuknya. Berbagai cara telah ditempuh, dari yang halal sampai yang haram seperti pergi ke dukun. Tapi apa hasilnya pergi ke dukun tersebut, malah keadaannya bertambah parah.

Akhirnya dia pun di sarankan untuk diterapi ke salah satu ustadz untuk di rukiah sepertinya. Dan sepertinya dia pun mulai baikan. Saat itu dia mengingat kami dan bisa berkomunikasi dengan kami, sehingga ku rasa dia telah menjadi dirinya yang seutuhnya. Aku pun merasa sangat gembira saat itu, saat bisa bersamanya kembali. Ku lihat dia bekerja bersama abangku yang tertua di rumah jamur. Abangku yang saat itu memiliki usaha budidaya jamur tiram, mau mempekerjakannya sekaligus membimbingnya untuk sholat dan mengaji. Alhamdulillah semua itu baik-baik saja.

Ingin kita semua keadaan berjalan baik dan lancar seperti biasanya, tapi semua itu tidaklah seperti yang di harap. Sampai suatu ketika pada saat berselang lebaran beberapa hari, kejadian yang mengguncangkan hatinya pun terjadi kembali.

Aku mendengar Zainal kembali bersama teman-temannya yang dahulu, dia menghabiskan malam lebaran yang ke-4 dengan mabuk-mabukan bersama teman-temannya kembali.

"Eh… kalau aku mati nanti, kamu yang gali kuburku ya!" tanya si A dalam beadaan mabuk kepada si B, kemudian setelahnya.
"Terus kalau aku mati kamulah yang nampung mayatku di kubur ya!" tanya si A lagi kepada Zainal dengan keadaan maubuk mereka.
"Ya…" mereka menanggapi permintaan si A tersebut.

Hari pun semakin larut, dan kemudian mereka pun berpisah di sana. Si A dan si B pun pergi meninggalkannya dengan berboncengan sepeda motor klasiknya. Beberapa jam berselang dari acara mereka itu, di kabarkan bahwasannya si A meninggal dunia karena jatuh di tekongan jalan raya. Padahal rumahnya aja sekitar tiga ratus meter aja dari tempat acara mereka tadi. Aku mendengar berita itu sekitar jam emapat dini hari dan kecelakaannya sekitar jam dua dan mereka mabuk-mabukan sekitar jam dua belasan sepertinya.

Cerita punya cerita kalau si A ingin mengunjungi rumah pacarnya sih yang jaraknya lumayan, sekitar 50 km dari kampung kami. Si A berboncengan dengan si B, tapi si B tidak apa-apa dan si A-lah yang meninggal dunia. Ah… mereka cari masalah aja, dah pada mabuk pun tetap aja bersikeras mau jumpai pacar. Yang penting jangan mengendarai sepeda motor dalam keadaan mabuk, atau jangan mabuk sekalian.

Setelah beberapa hari dari kejadian itu, Zainal pun menjadi bahan olok-olokan warga.

"Katanya mau menampung mayat si A di kubur." sambil berolok-olok terhadapnya.

Zainal pun malu di perlakukan begitu oleh sebagian masyarakan, karena dia tidak melaksanakan apa yang diucapkannya pada saat mabuk malam itu. Ibunya melarangnya pada saat itu, karena menurut ibunya itu hanyalah bualan orang mabuk saja yang nggak mesti ditepati. Tapi disaat itu juga hatinya menjadi kecil oleh perlakuan sebagian warga kepadanya. Di saat itu aku pun menjumpainya dan memberiaknya sedikit nasehat.

"Nal! Janganlah jadi nggak makan karena memikirkan itu terus." cetusku sedikit bercanda kepadanya.
"Dari mana kamu tahu aku tidak makan?" tanyanya penasaran.
"Ya tahulah! Kan biasanya kalau orang sedih nggak ingat makan dan nggak selera makan." jawabku santai untuk mencairkan suasana kami.
" Memang beberapa hari ini aku nggak selera makan." jawabnya sedih.
"Masalah ini jangan terlalu kamu fikirkan ya! Sebenarnya yang telah membunuh temanmu itu adalah minuman keras itu. Jika kamu memang sayang padanya, maka bencilah minuman keras itu! Karena mabuk si A jatuh dan akhirnya meninggal. Jangan pernah lagi kamu meminum minuman keras itu lagi, ok!" begitulah kira-kira aku memberikan semangat kepadanya.

Selanjutnya kami sudah mulai ngobrol santai untuk membahas hal-hal yang lain. Aku senang sekali kalau emosinya sudah stabil seperti ini dan sepertinya tidak ada yang perlu ku khawatirkan lagi. Setelah panjang lebar bercerita, aku pun pamit untuk pulang. Sekarang aku tidaklah memiliki banyak waktu untuk selalu berada di sisinya dan mendukungnya, karena aku sekarang sedang melanjutkan studiku di kota. Kini aku melanjutkan studi di PTS (Perguruan Tinggi Swasta) dan aku harus tinggal di sana, karena di sana mererapkan sistem asrama. Dan tak lama setelah itu aku meninggalkan kampung halamanku untuk melanjutkan jalan yang telah ku pilih.

"Selamat tinggal kawan, semoga kamu baik-baik saja. Tunggulah aku kembali beberapa tahun lagi, bersabarlah kawan." begitulah harapanku padanya.

Sebulan telah berlalu sejak kejadian itu, dan kini aku telah melanjutkan studiku. Ketika ada kesempatan untuk pulang, aku pun mengambil izin pulang menginap dari asrama tempat aku tinggal sekarang. Aku pulang ke rumah dan aku pun mendapati kabar yang tidak enak ku dengar.

"Dek! Kawanmu sudah kumat lagi, dan sekarang dia di rantai di rumahnya." begitulah kira-kira yang dikatakan oleh kakakku.

Aku pun bergegas pergi kerumahnya, dan aku mendapatinya sedang terbelenggu oleh rantai yang diikatkan ke tempat tidurnya. Aku sangat miris melihat semua keadaan ini, dan kenapa ini bisa terjadi kembali lagi?

Aku mendengar ketika aku pulang meninggalkannya, pada waktu yang lalu, temannya yang lain datang menemuinya di malam itu. Temannya itu sepertinya mendapatkan tekanan yang cukup parah karena putus cinta dari pacarnya. Kemudian temannya itu pun mencurahkan kegelisahan dan gundah gulananya kepadanya. Tapi tak di sangka keesokan paginya, pemuda itu telah tergantung di sebuh pabrik tak bernyawa lagi. Pemuda itu bunuh diri di sana, karena tidak sanggup berpisah dari pacarnya.

Semenjak kematian temannya yang kedua ini, Zainal pun menjadi stres memikirkannya tanpa ada tempat berbagi rasa ini. Akhirnya Zainal tidak sanggup menanggung beban fikiran ini sendiri yang baru selesai dari kematian temannya yang pertama kemudian disambung kematian temannya yang kedua ini yang tak berselang beberapa lama.

"Zainal, maafkan aku! Aku tidak ada di sisimu saat itu. Aku tidak bisa mengurangi beban yang kamu tahankan di fikiranmu itu. Maafkan aku!" aku merasa bersalah karena saat itu aku tidak berada di sisinya.

Keesokan harinya aku pun terpaksa pulang, karena izinku cuma satu hari saja. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuknya, hanya doa yang bisa ku beri untuknya. Mudah-mudahan Allah Ta'ala memberikan kesehatan untuknya.

Beberapa tahun telah berlalu, dan ku dengar dia sekarang sudah pulih kembali. Sekarang dia dalam tahap pengawasan RSJ setempat, dan sudah banyak perkembangan yang baik ku dengar. Aku biasanya menyempatkan diri mengunjunginya atau pun sekedar lewat depan rumahnya kalau aku tidak memiliki waktu yang cukup untuk berkunjung, hanya untuk melihat kondisinya. Apakah sekarang dia baik-baik saja, atau apakah yang terjadi gerangan padanya.

Ketika pesta demokrasi, masa pemilihan presiden telah dekat, aku mendapatkan izin pulang untuk ikut berpartisipasi pada pemilu presiden di kampungku. Di saat hari pemilu itu aku melihat Zainal lewat depan rumahku dengan mengendarai sepeda motor. Dia memboncenga adik perempuannya, tepat di hadapanku.

"Mau kemana?" sapaku kepadanya.
"Mau ke depan, jalan-jalan." begitulah kira-kira teriaknya  kepadaku sambil berlalu.
"Alhamdulillah! Berarti dia telah sehat, karena dia bisa membawa sepeda motor dan membonceng adik perempuannya." begitulah fikirku dalam hati.

Sore itu aku pun bergegas, ke rumah kakak sepupuku di sebuah kota kecil yang terletang tidak begitu jauh dari kampungku. Aku berencana menghabiskan waktu liburanku yang singkat di sana bersama anak-anak kakak sepupuku, karena aku ingin memanfaatkan waktu liburan ini semaksimal mungkin untuk liburan. Aku pun bergegas meluncur ke sana.

Malam itu aku sedang bercerita bersama anak-anak kakakku, tiba-tiba hapeku berbunyi. Aku melihat ada beberapa pesan dan beberapa panggilan tak terjawab dari kakakku yang tinggal di rumahku. Sms itu tertulis….

"Dek, temanmu  Zainal telah meninggal sekitar jam 10 malam di tabrak kereta api." begitulah kira-kira tertulis.

"Innalillahi wainnailaihi rojiun!" begitulah terucap.

Aku pun mulai gelisah dan tak tahu harus berbuat apa lagi. Aku pun menceritakan hal ini kepada kakak sepupuku, dan dia mengatakan.

"Besok pagi aja berangkatnya! Sekarang sudah jam berapa, kemungkinan juga mayatnya belum datang dari rumah sakit." begitulah nasehat kakak sepupuku.

Aku berfikir "Benar juga ya..." aku berfikir dalam hati.

Aku memutuskan untuk berangkat besok pagi, karena sekarang pun sudah tengah malam. Terus kalau aku datang, keadaan akan berubah? Sepertinya tidak.

Keesokan harinya aku berangkat ke kampung, setelah sampai di rumah aku bergegas ke rumah temanku itu. Aku melihat sudah banyak manusia yang berkumpul di sana. Suara isak tangis keluarganya pun terdengar. Aku pun masuk ke dalam rumahnya dan menemui kakak-kakaknya. Di sana aku melihat mayatnya sudah terbujur kaku. Ternyata dia hanya terserempet sedikit saja, karena kalau terlindas kereta api pasti sudah tidak karu-karuan lagi jasatnya.

Selanjutnya jenazahnyapun dimandikan. Aku pun ikut serta dalam memandikan jenazahnya. Ku lihati jasadnya yang telah kaku itu, bagaikan orang yang sedang tertidur saja.

"Teman, inilah akhir perjalanmu di dunia ini. Karena perjalananmu di dunia sana akan segera dimulai. Cukupkah bekalmu untuk melakukan perjalanan panjang itu?" begitulah yang ku fikirkan saat itu.

Setelah selesai dimandikan dan dikafani, jenazah segera dibawa ke tempat pemakaman muslimin. Ku lihat lahat telah digali, dan jenazah pun mulain di masukkan. Ku pandangi jenazah temanku yang mulai tak terlihat lagi oleh timbunan tanah itu, hatiku pun mulai hancur tak tahan melihat semua ini.

Tanpa disadari, air mata ini pun mulai membasahi pipiku. Aku pun mulai menangis terisak-isak tanpa bisa ku hentikan air mata itu dan ku sembunyikan kesedihanku.

"20 tahun bukanlah waktu yang singkat." begitulah yang ku fikirkan.

Kini telah selesai pertemananku dengannya. Sekitar 20 tahun aku sudah berteman dengannya dan mengahabiskan waktu kecilku bersamanya.

Kawan, mungkin aku terlalu lama pergi. Aku belum bisa kembali bersamamu karena belum selesai studiku. Sekarang kamu tidak perlu menunggu aku kembali lagi, aku akan mendoakanmu selalu. Selamat jalan kawan.

Kalu dilihat dari keluarganya, mungkin keluarganya tidaklah keluarga yang sempurnya. Ayah dan ibunya telah berpisah semenjak dia masih kecil. Dia tumbuh tanpa adanya bimbingan dan arahan seorang ayah, dan ibunya yang seharusnya juga membimbing dan mendidiknya juga disibukkan untuk bekerja mencari nafkah keluarga. Sedangkan kakak-kakak perempuannya juga pergi merantau untuk membantu perekonomian keluarga. Zainal adalah anak laki-laki tunggal di keluarganya dan seharusnya dialah menjadi harapan keluarga, tapi kondisi fisiknya yang lemah dan banyaknya tekanan-tekanan mental yang dihadapinya.

Sebagai seorang anak laki-laki, ibunya ingin kalau dia itu begini dan begitu sesuai dengan kemauan ibunya. Ibunya memiliki segudang harapan untuknya, tapi Zainal bukanlah seorang anak yang sempurna. Dia ingin bermain bersama teman-teman seusia dia, dan dia juga ingin tampil seperti teman-temanya kebanyakan. Tapi dia tidaklah memiliki apa yang menjadi milik teman-temannya itu, dia adalah seorang anak yang memiliki keterbatasan ekonomi. Dia juga tidak memiliki teman yang pas untuk mencurahkan rasa gundahnya, sedangkan ibunya tidaklah bisa dijadikan tempat bersandar untuk masalah hatinya. Dia frustasi dan dia sters memikirkan itu semua. Ibunya hanya bisa melarang dia begini dan begitu, melarang ke sini dan ke situ tanpa ada solusi yang jelas atau jalan keluar yang pas untuknya. Kepada siapalah dia mengadu saat itu, sedangkan kepada Allah Ta'ala dia jauh.

"Ya Allah! Hanya kepadaMulah kami berserah diri dan mencurahkan seluruh isi hati kami ini. Engkaulah sebaik-baik tempat mengadu." itulah yang ku fikirkan dalam hati ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar