"Teringat akan
masa yang lalu, di waktu kita masih bersama di sana." sebuah lirik yang ku
buat dahulu.
Kali ini aku akan
bercerita tentang teman masa keciku dahulu. Dia dan aku sangatlah akrab dan
dekat, di samping rumah kami yang juga berdekaran ketika kami masih kecil
dahulu. Tapi persahabatanku denagnnya tentulah lebih dekat lagi.
"20 tahun
bukanlah waktu yang singkat." aku terus memikirkan hal ini dan air mata
ini mulailah mengalir tanpa henti.
Perlahan tanah itu
pun mulai di jatuhkan, kini aku sudah tidak melihatmu lagi teman. Aku tidaklah
bisa menahan tangisku dan menyembunyikan kesedihanku. Walaupun kelihatannya
malu dah gedek kok nangis, tapi inilah kenyataanya. Mayat yang terbujur kaku
yang sedang di kebumikan warga adalah jenazah temanku, yang sudah ku anggap
saudaraku sendiri sejak saat dahulu. Orang-orang pun mulai memperhatikanku yang
mulai menangis, walau aku tidaklah histeris seperti ibu-ibu yang kehilangan
putra kesayangannya. Hanya saja aku, tidak bisa menahan air mata ini mengalir
di pipiku.
"Siapa
dia?" tanya uak temanku itu kepada kakak perempuannya ketika melihatku
menagis dan tak henti-hentinya menyeka air mataku yang tumpah.
"Oh, itu
temannya itu wak." jawab kakak Zainal.
Di saat itu aku
hanya berfikir, inilah akhir dari persahabatanku dengannya. Padahal
persahabatanku tidaklah berhenti begitu saja dengannya, aku masih bisa
mendoakannya di setiap selesai sholatku. Maaf, aku tak bisa memberikan apa-apa
lagi untuknya melainkan hanya doaku saja.
"20 tahun
bukanlah waktu yang singkat." ucapanku ini masih terngiang-ngiang di
telingaku.
Sekitar 20 tahun
yang lalu aku masihlah bocah balita yang hobinya main tanah di bawah kolong
rumahku. Maklumlah, dahulu rumah kami adalah rumah panggung yang terbuat dari
papan. Temanku itu namanya Zainal, Zainal Abidin. Dia adalah teman pertamaku
saat itu, dan kami masih sama-sama balita. Keluarga kami cukuplah akrab, bagi
ibuku Zainal, kakak-kakak dan adiknya bukanlah orang lain lagi. Bagi ibu,
mereka sudah seperti anak sendiri bagi ibu. Rumah Zainal terletak di belakang
rumahku pada saat itu, dan kami selalu bermain bersama. Mereka sering di
tinggal oleh orang tua mereka, karena ibu dan ayah mereka pergi bekerja.
Sedangkan ibuku selalu berada di ruamah sebagai ibu rumah tangga yang baik,
yang selalu bersama dan menjaga anak-anaknya yang sedang bermain di halaman
rumahnya sambil memasak di dapur. Itu juga yang membuat kami dekat dengan
keluarga temanku ini, karena Zainal dan kakak-kakaknya sering di tinggalkan
orang tuanya, maka mereka sering main ke rumahku.
Kehidupan keluarga
Zainal pun tidak berjalan dengan harmonis, di sana terdapat problematika rumah
tangga yang mengakibatkan ibu dan ayahya berpisah. Sekarang ibunyalah yang
menjadi tulang punggung keluarga merekadan aku tidak mengetahui ke mana ayahnya
pergi.
Waktu teruslah
bergulir dengan cepatnya, aku dan zainal telah memasuki SD (Sekolah Dasar). Aku
dan dia selalu bersama, bahkan kami adalah teman sebangku. Walau terkadang aku
juga berkelahi dengannya, tapi keesokan harinya kami tetap saja berteman.
Begitulah kehidupan anak SD pada masa itu, tidak menyimpan rasa dendam. Tanpa
disadari aku telah menghabiskan tiga tahunku dengan duduk bersebelahan
dengannya, walau aku sudah pindah rumah pada masa aku kelas satu SD. Meski aku
telah pindah rumah, tapi kami tetap teman sekampung.
Pernah suatu ketika
saat rumah kami masih berseberangan oleh parit kecil, kami disuruh oleh ibunya
untuk mengambil belanjaan yang dititipkan ibunya di kedai yang lumayan jauh sih
dari rumah kami. Setelah sampai di kedai yang di maksud ibunya, kami pun kembali
pulang membawa belanjaan tersebut. Belanjaannya tidak banyak sih, hanya daun
ubi beberapa ikat dan ikan laut yang terletak pada sebuah pelastik asoi. Aku
bertugas membawa daun ubi tersebut dan Zainal membawa ikan itu dalam perjalanan
pulang kami. Pada saat itu kami tengah melintasi rumah penduduk yang beragama
nasrani, mereka adalah orang-orang batak toba yang ada di kampung kami.
Tiba-tiba di tengah perjalanan, Zainal meminta untuk mertukaran barang.
Sekarang aku disuruhnya membawa ikan dan dia yang membawa daun ubi tersebut.
Tapi tak lama setelah beberapa langkah dari tempat itu, beberapa ekor anak
anjing mengejarku dan mengelilingiku. Mereka tertarik dengan apa yang aku bawa
tersebut. Aku pun ketakutan dan akhirnya menangis di kelilingi oleh anak-anak
anjing tersebut. Tak lama setelah itu, sang pemilik anjing pun keluar dari
rumahnya dan memanggil anak-anak anjing tersebut sehingga aku bisa melintas. Ku
lihat Zainal temanku tenang-tenang saja beberapa meter di depanku tanpa ada
masalah, karena anak-anak anjing tersebut tidaklah menginginkan apa yang dia
bawa sekarang. Huh… kesel banget saat itu. Tapi kenganan ini tak bisa ku
lupakan bersamanya.
Perkembanganku
dengan Zainal berbanding terbalik. Dia yang awal-awalnya pintar, terus merosot
prestasinya. Sedangkan aku pertamanya aja hampir tinggal kelas, tapi aku pada
akhir kelas VI SD mendapat peringkat III. Setelah itu aku dan Zainal pun
berniat untuk melanjutka sekolah kami di SMPN faforit di daerah kami. Kami
mendaftar di sekolah itu dan menyertakan berkas-berkas yang di butuhkan untuk
mendaftar dan setelahnya menunggu pengumuman. Dan setelah pengumuman kelulusan
ditempel, aku tidak melihat nama temanku itu. Aku hanya melihat namaku saja
yang keluar, dan aku mengerti bahwasannya temanku iti tidaklah lulus untuk
masuk SMP yang kami idam-idamkan itu.
Aku akhirnya
melanjutkan studiku di sana, sedangkan Zainal melanjutkan studinya di SMP
swasta yang tidak begitu jauh sih dari rumahku. Setelah berjalannya waktu kami
menjalani kehidupan baru kami menjadi anak SMP atau bisa dibilang anak yang
baru gede itu, aku mendapati Zainal berkembang ke sisi yang gelap. Sekarang ku
lihat dia, sering merokok, bolos sekolah, dan ku dengar bahwasannya dia sering
berjudi dan minum minuman keras. Sekarang sifatnya pun semakin menjengkelkan,
karena Zainal yang sekarang bukanlah Zainal yang dahulu aku kenal.
Sering sekali ketika
aku berangkat sekolah, dia menahanku dan meminta uang dariku. Dia mengatakan
kalau dia harus membayar uang sekolah dan uang buku atau lain sebagainya, atau
dia tidak boleh masuk sekolah karena belum melunasi semua itu. Aku pun bertanya
kenapanya dia bisa menunggak sebanyak itu, kemudian dia menjawab bahwasannya
dia telah menggelapkan uang yang telah diberikan oleh ibunya. Dia pun
mengikutiku sampai ke depan gerbang sekolahku, dan tidak membiarkan aku masuk
sebelum aku memberikannya uang. Aku pun terpaksa memberikan uangku kepadanya,
tapi aku bilang kepadanya harus di bayarkan untuk uang sekolah atau uang buku.
Aku berharap padanya agar dia menjauhi masalah-masalah yang seperti itu. Tapi
kejadian itu masih saja berulang dan berulang lagi. Aku jadi serba salah
jadinya kalau terus-terusan begini, tapi aku tidak bisa marah padanya karena
dia bagaikan saudaraku sendiri. Aku hanya bisa bersabar dan berdoa aja untuk
itu, semoga dia bisa berubah. Itu saja.
Aku mendengar bahwa
Zainal mendapat banyak permasalahan di sekolahnya, dan sepertinya tidak ada
manusiapun di sana yang tidak mengenal dia dengan kelakuannya itu. Dia juga
terikat banyak hutang dan selalu diburu oleh teman-teman sepermainannya. Aku
hanya berfikir kenapa ini bisa terjadi padanya. Permasalahnnya semakin banyak
dan akhirnya dia harus dikeluarkan dari sekolahnya. Selanjutnya ku dengar dia
pergi ke tempat ayahnya di daerah Pekanbaru dan melanjutkan sekolah disana,
tapi itu tidak lama. Dia pun kembali dan bersekolah di sebuah sekolah di daerah
kami. Tapi pada saat itu aku sudah tamat SMP dan aku masuk sekolah SMK di
kampung sebelah. Zainal masih saja sebagai siswa SMP yang terikat banyak sekali
masalah, dan dia saat itu duduk di kelas III SMP.
Aku tidak tahu harus
bilang bagai mana lagi padanya. Dia terlalu banyak terlibat permasalahan dan
merepotkan semua anggota keluarganya, dan nggak bisa meninggalkan
kebiasaan-kebiasaan buruknya. Di daerakhu saja dia sangat terkenal dikalangan
anak-anak yang seumuran denganku, hanya saja dia bukan tipe pereman yang hobi
berkelahi. Ayahku melarang aku untuk berteman dengannya, dan dia juga
mengetahui hal itu. Makanya tiap kali dia bersamaku dan aku kami hendak pulang,
maka ketika sudah dekat dengan rumahku, kami berpisah dan aku masuk dahulu ke
rumahku kemudian barulah dia melintasi rumahku setelah beberapa menit kemudian.
Dia juga tahu, aku bakalan kena marah ayahku jika jalan bersamanya. Menurut
ayahku, dia bakalan membawa aura negatif dalam hidupku dan membuatku
mendapatkan banyak masalah jika berteman dengannya. Tapi yang jadi
permasalahannya, dia tidaklah memiliki teman yang bisa menasehati dia dan yang
mengingatkan dia selalu kalau bukan aku.
Di keluarganya,
Zainal menjadi sorotan. Sekarang ibunya hiperprotect sekali kepadanya. Dia
tidak boleh keluar rumah, tidak boleh pergi ke sini, apa lagi ke situ, nggak
boleh berteman dengan si A apa lagi si Z, kalau mau berteman dengan si E aja.
Begitulah kira-kira perlindungan yang menyeluruh yang diberikan ibunya
kepadanya. Emang sih, kalu dia kembali ke lingkungannya yang sebelumnya itu
tidak baik, tapi bagaimana jadinya kalau dia hampir dilarang berteman secara
mutlak. Karena setauku, kebanyakan teman-temannya ya… begitulah modelnya.
Setelah Zainal
menyelesaikan sekolah SMP-nya, maka dia memutuskan untuk ikut kerja bangunan di
Aceh pasca tsunami. Aku juga tidak habis fikir dia pergi kesana, padahal
setahuku dia tidak memiliki skill untuk kerja berat seperti kerja bangunan.
Tapi itulah yang dia pilih, jadi mau buat apa lagi.
Sebulan atau lebih
sedikit dari pada itu telah berlalu, tatkala itu aku sedang mengendarai sepeda
motor milik abangku. Aku berselisih dengan seseorang yang postur badannya
didaklah lebih tinggi dariku, berkulit hitam, tidak memakai baju, sambil
berlari di jalanan dengan membawa sepotong pelepah sawit yang memiliki banyak
duri.
"Dek! Antarkan
kakak ke sana dek, kejarkan dia" pinta kakaknya padaku sambil berlari
mengahampiriku.
Orang tadi yang
berselisih denganku adalah temanku sendiri, Zainal. Aku pun tak habis fikir
kenapa tingkahnya aneh seperti ini. "Apa yang telah terjadi di sana (di
perantauannya)?" tanyaku dalam hati.
Aku dan kakaknya pun
menghamipirinya dengan sepeda motor, akan tetapi dia pun langsung mengayunkan
pelepah sawit yang penuh duri itu ke arah kami. Ops… aku pun menghindar dan
akhirnya sepeda motar itu pun lengser di tanah. Kakaknya pun menjerit dan menangis,
sehingga warga merkeluaran dari rumahnya dan menyaksikan kami, kemudian dia pun
pergi berlari seperti tadi meninggalkan kami. Pada saat itu kami berada di
pemukiman warga batak toba yang mereka itu beragama nasrani. Kakaknya pun terus
berlari mengikutinya, disusul dengan adik perempuannya. Mereka mencoba meminta
warga untuk menangkap temanku itu, tapi warga pun enggan membantu karena Zainal
yang sekarang telah hilang akal sehatnya yang mencoba menebas kami tadi dengan
pelepah sawit yang berduri banyak itu. Selanjutnya aku tidak tahu pasti apa
yang terjadi di jalanan itu dan aku akhirnya pulang ke rumahku. Itulah
pertemuan pertamaku dengannya setelah dia pulang dari merantau.
Pada malamnya kami
berkumpul semua berkumpul di rumahnya tanpa ada yang mengkomandoi, tapi ku
lihat semua pemuda desa terlah hadir atau sebagian mereka telah datang dan
pergi. Kami melihat kondisinya sangatlah miris sekali, dia bahkan tidak
mengenali kami semua dan sepertinya bukan dia lagi yang menguasai jasadnya
melainkan jin-jin entah dari mana. Ku lihat berbagai pemuda kampung berusaha
mengembalikan ingatan dan kesadarannya, bahkan di sana ada dukun yang mencoba
turun tangan. Ah… semuanya menjadi kacau dan kacau sekali. Aku tidak tahu harus
berbuat apa lagi dan akhirnya dia pun di pasung oleh orang tuanya.
Beberapa tahun telah
berlalu dan kondisinya masihlah tidak berubah jauh dari pertama kulihat kembali
dari perantauannya. Orang tua dan kakak-kakaknya sudahlah capek mengobatinya ke
sana ke mari, dari rumah sakit yang satu ke dukun yang lain dan dari dukun yang
satu ke rumah sakit yang lain. Begitulah keadaanya dan keluarganya
mengaharapkan kesembuhan untuknya. Berbagai cara telah ditempuh, dari yang
halal sampai yang haram seperti pergi ke dukun. Tapi apa hasilnya pergi ke
dukun tersebut, malah keadaannya bertambah parah.
Akhirnya dia pun di
sarankan untuk diterapi ke salah satu ustadz untuk di rukiah sepertinya. Dan
sepertinya dia pun mulai baikan. Saat itu dia mengingat kami dan bisa
berkomunikasi dengan kami, sehingga ku rasa dia telah menjadi dirinya yang
seutuhnya. Aku pun merasa sangat gembira saat itu, saat bisa bersamanya
kembali. Ku lihat dia bekerja bersama abangku yang tertua di rumah jamur.
Abangku yang saat itu memiliki usaha budidaya jamur tiram, mau mempekerjakannya
sekaligus membimbingnya untuk sholat dan mengaji. Alhamdulillah semua itu
baik-baik saja.
Ingin kita semua
keadaan berjalan baik dan lancar seperti biasanya, tapi semua itu tidaklah
seperti yang di harap. Sampai suatu ketika pada saat berselang lebaran beberapa
hari, kejadian yang mengguncangkan hatinya pun terjadi kembali.
Aku mendengar Zainal
kembali bersama teman-temannya yang dahulu, dia menghabiskan malam lebaran yang
ke-4 dengan mabuk-mabukan bersama teman-temannya kembali.
"Eh… kalau aku
mati nanti, kamu yang gali kuburku ya!" tanya si A dalam beadaan mabuk
kepada si B, kemudian setelahnya.
"Terus kalau
aku mati kamulah yang nampung mayatku di kubur ya!" tanya si A lagi kepada
Zainal dengan keadaan maubuk mereka.
"Ya…"
mereka menanggapi permintaan si A tersebut.
Hari pun semakin
larut, dan kemudian mereka pun berpisah di sana. Si A dan si B pun pergi
meninggalkannya dengan berboncengan sepeda motor klasiknya. Beberapa jam
berselang dari acara mereka itu, di kabarkan bahwasannya si A meninggal dunia
karena jatuh di tekongan jalan raya. Padahal rumahnya aja sekitar tiga ratus
meter aja dari tempat acara mereka tadi. Aku mendengar berita itu sekitar jam
emapat dini hari dan kecelakaannya sekitar jam dua dan mereka mabuk-mabukan
sekitar jam dua belasan sepertinya.
Cerita punya cerita
kalau si A ingin mengunjungi rumah pacarnya sih yang jaraknya lumayan, sekitar
50 km dari kampung kami. Si A berboncengan dengan si B, tapi si B tidak apa-apa
dan si A-lah yang meninggal dunia. Ah… mereka cari masalah aja, dah pada mabuk
pun tetap aja bersikeras mau jumpai pacar. Yang penting jangan mengendarai
sepeda motor dalam keadaan mabuk, atau jangan mabuk sekalian.
Setelah beberapa
hari dari kejadian itu, Zainal pun menjadi bahan olok-olokan warga.
"Katanya mau
menampung mayat si A di kubur." sambil berolok-olok terhadapnya.
Zainal pun malu di
perlakukan begitu oleh sebagian masyarakan, karena dia tidak melaksanakan apa
yang diucapkannya pada saat mabuk malam itu. Ibunya melarangnya pada saat itu,
karena menurut ibunya itu hanyalah bualan orang mabuk saja yang nggak mesti ditepati.
Tapi disaat itu juga hatinya menjadi kecil oleh perlakuan sebagian warga
kepadanya. Di saat itu aku pun menjumpainya dan memberiaknya sedikit nasehat.
"Nal! Janganlah
jadi nggak makan karena memikirkan itu terus." cetusku sedikit bercanda
kepadanya.
"Dari mana kamu
tahu aku tidak makan?" tanyanya penasaran.
"Ya tahulah!
Kan biasanya kalau orang sedih nggak ingat makan dan nggak selera makan."
jawabku santai untuk mencairkan suasana kami.
" Memang
beberapa hari ini aku nggak selera makan." jawabnya sedih.
"Masalah ini
jangan terlalu kamu fikirkan ya! Sebenarnya yang telah membunuh temanmu itu
adalah minuman keras itu. Jika kamu memang sayang padanya, maka bencilah
minuman keras itu! Karena mabuk si A jatuh dan akhirnya meninggal. Jangan
pernah lagi kamu meminum minuman keras itu lagi, ok!" begitulah kira-kira
aku memberikan semangat kepadanya.
Selanjutnya kami
sudah mulai ngobrol santai untuk membahas hal-hal yang lain. Aku senang sekali
kalau emosinya sudah stabil seperti ini dan sepertinya tidak ada yang perlu ku
khawatirkan lagi. Setelah panjang lebar bercerita, aku pun pamit untuk pulang. Sekarang
aku tidaklah memiliki banyak waktu untuk selalu berada di sisinya dan
mendukungnya, karena aku sekarang sedang melanjutkan studiku di kota. Kini aku
melanjutkan studi di PTS (Perguruan Tinggi Swasta) dan aku harus tinggal di
sana, karena di sana mererapkan sistem asrama. Dan tak lama setelah itu aku
meninggalkan kampung halamanku untuk melanjutkan jalan yang telah ku pilih.
"Selamat
tinggal kawan, semoga kamu baik-baik saja. Tunggulah aku kembali beberapa tahun
lagi, bersabarlah kawan." begitulah harapanku padanya.
Sebulan telah
berlalu sejak kejadian itu, dan kini aku telah melanjutkan studiku. Ketika ada
kesempatan untuk pulang, aku pun mengambil izin pulang menginap dari asrama
tempat aku tinggal sekarang. Aku pulang ke rumah dan aku pun mendapati kabar
yang tidak enak ku dengar.
"Dek! Kawanmu
sudah kumat lagi, dan sekarang dia di rantai di rumahnya." begitulah
kira-kira yang dikatakan oleh kakakku.
Aku pun bergegas
pergi kerumahnya, dan aku mendapatinya sedang terbelenggu oleh rantai yang
diikatkan ke tempat tidurnya. Aku sangat miris melihat semua keadaan ini, dan
kenapa ini bisa terjadi kembali lagi?
Aku mendengar ketika
aku pulang meninggalkannya, pada waktu yang lalu, temannya yang lain datang
menemuinya di malam itu. Temannya itu sepertinya mendapatkan tekanan yang cukup
parah karena putus cinta dari pacarnya. Kemudian temannya itu pun mencurahkan
kegelisahan dan gundah gulananya kepadanya. Tapi tak di sangka keesokan
paginya, pemuda itu telah tergantung di sebuh pabrik tak bernyawa lagi. Pemuda
itu bunuh diri di sana, karena tidak sanggup berpisah dari pacarnya.
Semenjak kematian
temannya yang kedua ini, Zainal pun menjadi stres memikirkannya tanpa ada
tempat berbagi rasa ini. Akhirnya Zainal tidak sanggup menanggung beban fikiran
ini sendiri yang baru selesai dari kematian temannya yang pertama kemudian
disambung kematian temannya yang kedua ini yang tak berselang beberapa lama.
"Zainal,
maafkan aku! Aku tidak ada di sisimu saat itu. Aku tidak bisa mengurangi beban
yang kamu tahankan di fikiranmu itu. Maafkan aku!" aku merasa bersalah
karena saat itu aku tidak berada di sisinya.
Keesokan harinya aku
pun terpaksa pulang, karena izinku cuma satu hari saja. Aku tidak bisa berbuat
apa-apa untuknya, hanya doa yang bisa ku beri untuknya. Mudah-mudahan Allah
Ta'ala memberikan kesehatan untuknya.
Beberapa tahun telah
berlalu, dan ku dengar dia sekarang sudah pulih kembali. Sekarang dia dalam
tahap pengawasan RSJ setempat, dan sudah banyak perkembangan yang baik ku
dengar. Aku biasanya menyempatkan diri mengunjunginya atau pun sekedar lewat
depan rumahnya kalau aku tidak memiliki waktu yang cukup untuk berkunjung,
hanya untuk melihat kondisinya. Apakah sekarang dia baik-baik saja, atau apakah
yang terjadi gerangan padanya.
Ketika pesta
demokrasi, masa pemilihan presiden telah dekat, aku mendapatkan izin pulang
untuk ikut berpartisipasi pada pemilu presiden di kampungku. Di saat hari
pemilu itu aku melihat Zainal lewat depan rumahku dengan mengendarai sepeda
motor. Dia memboncenga adik perempuannya, tepat di hadapanku.
"Mau
kemana?" sapaku kepadanya.
"Mau ke depan,
jalan-jalan." begitulah kira-kira teriaknya kepadaku sambil berlalu.
"Alhamdulillah!
Berarti dia telah sehat, karena dia bisa membawa sepeda motor dan membonceng
adik perempuannya." begitulah fikirku dalam hati.
Sore itu aku pun
bergegas, ke rumah kakak sepupuku di sebuah kota kecil yang terletang tidak
begitu jauh dari kampungku. Aku berencana menghabiskan waktu liburanku yang
singkat di sana bersama anak-anak kakak sepupuku, karena aku ingin memanfaatkan
waktu liburan ini semaksimal mungkin untuk liburan. Aku pun bergegas meluncur
ke sana.
Malam itu aku sedang
bercerita bersama anak-anak kakakku, tiba-tiba hapeku berbunyi. Aku melihat ada
beberapa pesan dan beberapa panggilan tak terjawab dari kakakku yang tinggal di
rumahku. Sms itu tertulis….
"Dek,
temanmu Zainal telah meninggal sekitar
jam 10 malam di tabrak kereta api." begitulah kira-kira tertulis.
"Innalillahi
wainnailaihi rojiun!" begitulah terucap.
Aku pun mulai
gelisah dan tak tahu harus berbuat apa lagi. Aku pun menceritakan hal ini
kepada kakak sepupuku, dan dia mengatakan.
"Besok pagi aja
berangkatnya! Sekarang sudah jam berapa, kemungkinan juga mayatnya belum datang
dari rumah sakit." begitulah nasehat kakak sepupuku.
Aku berfikir
"Benar juga ya..." aku berfikir dalam hati.
Aku memutuskan untuk
berangkat besok pagi, karena sekarang pun sudah tengah malam. Terus kalau aku
datang, keadaan akan berubah? Sepertinya tidak.
Keesokan harinya aku
berangkat ke kampung, setelah sampai di rumah aku bergegas ke rumah temanku
itu. Aku melihat sudah banyak manusia yang berkumpul di sana. Suara isak tangis
keluarganya pun terdengar. Aku pun masuk ke dalam rumahnya dan menemui kakak-kakaknya.
Di sana aku melihat mayatnya sudah terbujur kaku. Ternyata dia hanya
terserempet sedikit saja, karena kalau terlindas kereta api pasti sudah tidak
karu-karuan lagi jasatnya.
Selanjutnya
jenazahnyapun dimandikan. Aku pun ikut serta dalam memandikan jenazahnya. Ku
lihati jasadnya yang telah kaku itu, bagaikan orang yang sedang tertidur saja.
"Teman, inilah
akhir perjalanmu di dunia ini. Karena perjalananmu di dunia sana akan segera
dimulai. Cukupkah bekalmu untuk melakukan perjalanan panjang itu?"
begitulah yang ku fikirkan saat itu.
Setelah selesai
dimandikan dan dikafani, jenazah segera dibawa ke tempat pemakaman muslimin. Ku
lihat lahat telah digali, dan jenazah pun mulain di masukkan. Ku pandangi
jenazah temanku yang mulai tak terlihat lagi oleh timbunan tanah itu, hatiku
pun mulai hancur tak tahan melihat semua ini.
Tanpa disadari, air
mata ini pun mulai membasahi pipiku. Aku pun mulai menangis terisak-isak tanpa
bisa ku hentikan air mata itu dan ku sembunyikan kesedihanku.
"20 tahun
bukanlah waktu yang singkat." begitulah yang ku fikirkan.
Kini telah selesai
pertemananku dengannya. Sekitar 20 tahun aku sudah berteman dengannya dan
mengahabiskan waktu kecilku bersamanya.
Kawan, mungkin aku
terlalu lama pergi. Aku belum bisa kembali bersamamu karena belum selesai
studiku. Sekarang kamu tidak perlu menunggu aku kembali lagi, aku akan
mendoakanmu selalu. Selamat jalan kawan.
Kalu dilihat dari
keluarganya, mungkin keluarganya tidaklah keluarga yang sempurnya. Ayah dan
ibunya telah berpisah semenjak dia masih kecil. Dia tumbuh tanpa adanya
bimbingan dan arahan seorang ayah, dan ibunya yang seharusnya juga membimbing
dan mendidiknya juga disibukkan untuk bekerja mencari nafkah keluarga.
Sedangkan kakak-kakak perempuannya juga pergi merantau untuk membantu
perekonomian keluarga. Zainal adalah anak laki-laki tunggal di keluarganya dan
seharusnya dialah menjadi harapan keluarga, tapi kondisi fisiknya yang lemah
dan banyaknya tekanan-tekanan mental yang dihadapinya.
Sebagai seorang anak
laki-laki, ibunya ingin kalau dia itu begini dan begitu sesuai dengan kemauan
ibunya. Ibunya memiliki segudang harapan untuknya, tapi Zainal bukanlah seorang
anak yang sempurna. Dia ingin bermain bersama teman-teman seusia dia, dan dia
juga ingin tampil seperti teman-temanya kebanyakan. Tapi dia tidaklah memiliki
apa yang menjadi milik teman-temannya itu, dia adalah seorang anak yang
memiliki keterbatasan ekonomi. Dia juga tidak memiliki teman yang pas untuk
mencurahkan rasa gundahnya, sedangkan ibunya tidaklah bisa dijadikan tempat
bersandar untuk masalah hatinya. Dia frustasi dan dia sters memikirkan itu
semua. Ibunya hanya bisa melarang dia begini dan begitu, melarang ke sini dan
ke situ tanpa ada solusi yang jelas atau jalan keluar yang pas untuknya. Kepada
siapalah dia mengadu saat itu, sedangkan kepada Allah Ta'ala dia jauh.
"Ya Allah!
Hanya kepadaMulah kami berserah diri dan mencurahkan seluruh isi hati kami ini.
Engkaulah sebaik-baik tempat mengadu." itulah yang ku fikirkan dalam hati
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar