Minggu, 19 April 2015

Malam Terkutuk

Teringat nie pada kisah yang mungkin tak bisa di lupakan. Sesuai dengan judul yang tertera di atas yaitu "Malam Terkutuk" hehe… Kisah ini terjadi pada malam tahun baru 2008 yang lampau. Mau tahu gimana kisahnya? Yuk kita ulas terntang MALAM TERKUTUK ini. Cekidot!

Aku, abangku yang sulung beserta beberapa temannya memiliki planing nie atau yang bahasa kerennya perencanaan. Kami berencana ingin mengadakan studio cetak foto digital edisi tahun baru di sebuah pantai yang cukup masyur di daerahku. Pada hari H-2 kami sudah menyiapkan apa-apa saja yang kami perlukan nantinya di sana, dari masalah tempat, tenda dan lain-lainnya. Sehingga pada saat H-1 kami segera meluncur ketempat eksekusi, maksudnya pantai itu tadi.

Pada dua malam sebelum hari eksekusi, kami sudah menginap di rumah teman abang yang berdomisili tidak jauh dari pantai tersebut. Di sana kami mengecek barang bawaan kami kembali, mungkin ada yang ketinggalan atau belum tersiapkan gitu. Pada pagi H-1 kami melangsir barang bawaan kami ke pantai sekaligus berkenalan dengan kenalan teman abang yang kebetulan itu penanggung jawab kami di pantai itu. Pagi itu suasana masih sepi banget, dan kami masih bisa berjalan ke sana ke mari dan berfoto-foto bagaikan artis-artis berfose di tepi pantai.

Di bawah pohon nan rindang abang beserta teman-temannya yang lain menyiapkan kemah yang cukup besar untuk kami, yaitu sebagai studio foto kami nantinya dan yang satunya lagi untuk tempat kami bermalam nantinya. Kami terdiri dari beberapa team, aku dan abangku memegang bagian foto dan cetak foto, kalau teman abang ada yang jualan kartu perdana hape dan ada juga yang praktisi seni gambar kulit alias pembuat tato. Abang pembuat tato menawarkan tato kontemporer atau tato yang bisa hilang dengan sendirinya setelah berjalan beberapa waktu, tapi kalau ada yang minta tato permanen juga di sediakan oleh abang itu. Ah… kalau aku nggak mau ah ditato, walaupun nantinya bisa hilang apa lagi lagi permanen. Ih… serem!

Ketika matahari sudah mulai meninggi, ku lihat ada juga pengunjung pantai yang telah hadir. Mereka adalah sebuah keluarga kecil yang terdiri dari dua orang tua dan dua orang anak, kemudian pengunjung lain pun bermunculan juga seperti sepasang kekasih yang ingin menghabiskan waktu liburan mereka bermain pasir dengan di temani hembusan angin pantai yang segar, atau sekedar berjalan-jalan untuk memanjakan kaki mereka dengan pasir putih yang basah di pinggiran pantai. Ada juga tuh sekelompok mahasiswa yang bermain gitar sambil bernyanyi-nyanyi di pondok yang telah mereka sewa dengan melambaikan bendera yang terdapat simbol perguruan tinggi mereka. Ya.. Pada saat itu aku sih masih duduk di kelas tiga SMK. Aku melihat semua mereka terlihat bahagia sekali, seolah olah mereka tidak memiliki beban sama sekali atau melepaskan beban mereka ke pantai ini.

Kami pun mulai beraksi untuk menawarkan jasa dan produk kami kepada mereka, apakah di antara mereka yang hadir ada yang ingin di foto atau di tato hehe…. Atau sekedar membeli kartu perdana. Satu persatu aku pun mulai mengambil gambar mereka, maklumlah zaman dahulu itu belum ada tuh atau belum buming BB ataupun Android yang memiliki kulitas foto yang baik. Dengan bermodalkan kamera digital Low-End yang memiliki kualitas foto sekitar 5MP saja, tapi itu sudah cukup pada zaman itu mas bro.

Klik… klik… yap, foto pun kudapatkan dengan berbagai enggel sesuai dengan keinginan klien. "Ok mas, fotonya nanti bisa di ambil di studio kami yang ada di sana tuh, paling lama 15 menit kok, oke?" begitulah kira-kira, hehe…

Sedikit demi sedikit, rupiah pun berdatangan. Dan tanpa disadari hari pun sudah beranjak sore, dan kami bersiap siap untuk mandi dan persiapan untuk sholat magrib. Maklumlah sebagai seorang muslim yang baik, kita harus menjaga sholat lima waktu walaupun lagi sibuk cari duit. Ya… mudah-mudahan duit yang didapat nantinya jadi berkah dan usaha pun menjadi lancar.

Wah… karena orangnya juga lumayan banyak dan kamar mandinya yang cukup terbatas, sebagian dari kami terpaksa berwuduk dengan air laut. Wuih… baru kali ini wuduk dengan air laut, asin pastinya mas bro. setelah itu kami sholat berjamaah di tenda yang cukup luas itu. Hehe… pengalaman pertama sholat di pantai dengan wuduk air laut.

Setelah sholat magrib, kami pergi makan sekalian nunggu waktu isya dan setelah itu baru beraksi lagi. Abis isya inilah kami langsung patroli merazia orang yang mau di foto. Ayo berangkat untuk mengeksekusi mereka, hehehehe…

"Maaf bang! Mau difoto? Nanti bisa cetak langsung kok di studio kita di sana." aku menawarkan jasa.
"Maaf ya dek." jawab mereka singkat.

Ya nggak semua orang yang berada di sana mau difoto, mungkin mereka lagi kangker (kantong kering) alias nggak berduit, xixixixi… atau mereka lagi nggak mood aja difoto atau apalah. Kita akan kasi mereka seribu maklum untuk nggak mau difoto. Ya… kita nggak boleh suuzon terhadap mereka, atau berperasangka buruk terhadap mereka. Gitukan? Okelah kalu begitu… okelah kalau begitu…

Kami terus meronda malam itu, untuk mencari korban yang akan kami foto pada saat itu. Malam pun semakin larut, tapi puluhan sepeda motor malah berdatangan ke pantai tersebut untuk merayakan malam tahun baru di sana. Semakin malam, maka semakin banyaklah debit sepeda motor yang masuk. Astaghfirullah, apakah yang bakalan mereka lakukan berpasang-pasanagan kekasih yang mungkin mereka akan berbagi kasihnya dan berpesta ria di malam tahun baru ini. Kami pun masih melanjutkan pekerjaan kami, yaitu menelusuri pantai untuk menawarkan jasa foto digital kami kepada pengunjung pantai yang datang pada malam itu. Kemudian…..

"Eh…???" fikirku dalam hati.

Kami pun kembali ke markas tanpa membawa hasil yang memuaskan untuk malam itu.

"Ada yang difoto?" tanya abangku.
"Gimana mereka mau difoto, mereka aja dah nggak pake celana." jawab teman abangku sambil tersenyum kecil.

Begitulah pemandangan malam tahun baru yang baru saja kami saksikan dari pondok-pondok yang berjejeran di tepi pantai pada saat malam itu. Di sana ada puluhan pasangan muda mudi sedang berpesta merayakan tahun baru dengan berpasang pasangan dan masing masing mereka nggak pake celana lagi. Kira-kira, apa yang akan mereka lakukan setelahnya? Tahukah emak papaknya di rumah atas apa yang mereka lakukan pada malam terkutuk ini? Mungkin kita harus menjaga anak-anak perempuan kita dari serigala-serigala yang berkeliaran di malam tahun baru.

Pagi harinya puluhan sepeda motor itu pun meninggalkan pantai. Ya… mereka adalah puluhan pasang pemuda-pemudi yang nggak pake celana pada malam tahun baru tersebut, sepertinya. Mudah-mudahan tidak semua dari mereka yang melepaskan celananya, atau hanya sedikit saja dari mereka. Aku berharap apa yang aku lihat adalah salah, tapi itu begitu jelas terlihat di mataku.


Hari tahun baru itu kami cukup kewalahan menerima orderan dari orang yang ingin berfoto di hari tahun baru itu. Sorenya kami bergegas pulang, karena misi kami telah usai di edisi tahun baru ini. Malam tahun baru 2008 yang tak terlupakan. Ah… sungguh capek buanget hari itu. Mudah-mudahan aku tidak menjumpai malam seperti malam ini lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar