Teringat nie pada
kisah yang mungkin tak bisa di lupakan. Sesuai dengan judul yang tertera di
atas yaitu "Malam Terkutuk" hehe… Kisah ini terjadi pada malam tahun
baru 2008 yang lampau. Mau tahu gimana kisahnya? Yuk kita ulas terntang MALAM
TERKUTUK ini. Cekidot!
Aku, abangku yang
sulung beserta beberapa temannya memiliki planing
nie atau yang bahasa kerennya perencanaan. Kami berencana ingin mengadakan
studio cetak foto digital edisi tahun baru di sebuah pantai yang cukup masyur
di daerahku. Pada hari H-2 kami sudah menyiapkan apa-apa saja yang kami
perlukan nantinya di sana, dari masalah tempat, tenda dan lain-lainnya.
Sehingga pada saat H-1 kami segera meluncur ketempat eksekusi, maksudnya pantai
itu tadi.
Pada dua malam
sebelum hari eksekusi, kami sudah menginap di rumah teman abang yang
berdomisili tidak jauh dari pantai tersebut. Di sana kami mengecek barang
bawaan kami kembali, mungkin ada yang ketinggalan atau belum tersiapkan gitu.
Pada pagi H-1 kami melangsir barang bawaan kami ke pantai sekaligus berkenalan
dengan kenalan teman abang yang kebetulan itu penanggung jawab kami di pantai
itu. Pagi itu suasana masih sepi banget, dan kami masih bisa berjalan ke sana
ke mari dan berfoto-foto bagaikan artis-artis berfose di tepi pantai.
Di bawah pohon nan
rindang abang beserta teman-temannya yang lain menyiapkan kemah yang cukup
besar untuk kami, yaitu sebagai studio foto kami nantinya dan yang satunya lagi
untuk tempat kami bermalam nantinya. Kami terdiri dari beberapa team, aku dan
abangku memegang bagian foto dan cetak foto, kalau teman abang ada yang jualan
kartu perdana hape dan ada juga yang praktisi seni gambar kulit alias pembuat
tato. Abang pembuat tato menawarkan tato kontemporer atau tato yang bisa hilang
dengan sendirinya setelah berjalan beberapa waktu, tapi kalau ada yang minta
tato permanen juga di sediakan oleh abang itu. Ah… kalau aku nggak mau ah
ditato, walaupun nantinya bisa hilang apa lagi lagi permanen. Ih… serem!
Ketika matahari
sudah mulai meninggi, ku lihat ada juga pengunjung pantai yang telah hadir.
Mereka adalah sebuah keluarga kecil yang terdiri dari dua orang tua dan dua
orang anak, kemudian pengunjung lain pun bermunculan juga seperti sepasang
kekasih yang ingin menghabiskan waktu liburan mereka bermain pasir dengan di
temani hembusan angin pantai yang segar, atau sekedar berjalan-jalan untuk
memanjakan kaki mereka dengan pasir putih yang basah di pinggiran pantai. Ada
juga tuh sekelompok mahasiswa yang bermain gitar sambil bernyanyi-nyanyi di
pondok yang telah mereka sewa dengan melambaikan bendera yang terdapat simbol
perguruan tinggi mereka. Ya.. Pada saat itu aku sih masih duduk di kelas tiga
SMK. Aku melihat semua mereka terlihat bahagia sekali, seolah olah mereka tidak
memiliki beban sama sekali atau melepaskan beban mereka ke pantai ini.
Kami pun mulai
beraksi untuk menawarkan jasa dan produk kami kepada mereka, apakah di antara
mereka yang hadir ada yang ingin di foto atau di tato hehe…. Atau sekedar
membeli kartu perdana. Satu persatu aku pun mulai mengambil gambar mereka,
maklumlah zaman dahulu itu belum ada tuh atau belum buming BB ataupun Android
yang memiliki kulitas foto yang baik. Dengan bermodalkan kamera digital Low-End
yang memiliki kualitas foto sekitar 5MP saja, tapi itu sudah cukup pada zaman
itu mas bro.
Klik… klik… yap,
foto pun kudapatkan dengan berbagai enggel sesuai dengan keinginan klien. "Ok mas, fotonya nanti bisa di
ambil di studio kami yang ada di sana tuh, paling lama 15 menit kok, oke?"
begitulah kira-kira, hehe…
Sedikit demi
sedikit, rupiah pun berdatangan. Dan tanpa disadari hari pun sudah beranjak
sore, dan kami bersiap siap untuk mandi dan persiapan untuk sholat magrib.
Maklumlah sebagai seorang muslim yang baik, kita harus menjaga sholat lima
waktu walaupun lagi sibuk cari duit. Ya… mudah-mudahan duit yang didapat
nantinya jadi berkah dan usaha pun menjadi lancar.
Wah… karena orangnya
juga lumayan banyak dan kamar mandinya yang cukup terbatas, sebagian dari kami
terpaksa berwuduk dengan air laut. Wuih… baru kali ini wuduk dengan air laut,
asin pastinya mas bro. setelah itu kami sholat berjamaah di tenda yang cukup
luas itu. Hehe… pengalaman pertama sholat di pantai dengan wuduk air laut.
Setelah sholat
magrib, kami pergi makan sekalian nunggu waktu isya dan setelah itu baru
beraksi lagi. Abis isya inilah kami langsung patroli merazia orang yang mau di
foto. Ayo berangkat untuk mengeksekusi mereka, hehehehe…
"Maaf bang! Mau
difoto? Nanti bisa cetak langsung kok di studio kita di sana." aku
menawarkan jasa.
"Maaf ya
dek." jawab mereka singkat.
Ya nggak semua orang
yang berada di sana mau difoto, mungkin mereka lagi kangker (kantong kering)
alias nggak berduit, xixixixi… atau mereka lagi nggak mood aja difoto atau
apalah. Kita akan kasi mereka seribu maklum untuk nggak mau difoto. Ya… kita
nggak boleh suuzon terhadap mereka, atau berperasangka buruk terhadap mereka.
Gitukan? Okelah kalu begitu… okelah kalau begitu…
Kami terus meronda
malam itu, untuk mencari korban yang akan kami foto pada saat itu. Malam pun
semakin larut, tapi puluhan sepeda motor malah berdatangan ke pantai tersebut
untuk merayakan malam tahun baru di sana. Semakin malam, maka semakin banyaklah
debit sepeda motor yang masuk. Astaghfirullah, apakah yang bakalan mereka
lakukan berpasang-pasanagan kekasih yang mungkin mereka akan berbagi kasihnya
dan berpesta ria di malam tahun baru ini. Kami pun masih melanjutkan pekerjaan
kami, yaitu menelusuri pantai untuk menawarkan jasa foto digital kami kepada
pengunjung pantai yang datang pada malam itu. Kemudian…..
"Eh…???"
fikirku dalam hati.
Kami pun kembali ke
markas tanpa membawa hasil yang memuaskan untuk malam itu.
"Ada yang
difoto?" tanya abangku.
"Gimana mereka
mau difoto, mereka aja dah nggak pake celana." jawab teman abangku sambil
tersenyum kecil.
Begitulah
pemandangan malam tahun baru yang baru saja kami saksikan dari pondok-pondok
yang berjejeran di tepi pantai pada saat malam itu. Di sana ada puluhan
pasangan muda mudi sedang berpesta merayakan tahun baru dengan berpasang
pasangan dan masing masing mereka nggak pake celana lagi. Kira-kira, apa yang
akan mereka lakukan setelahnya? Tahukah emak papaknya di rumah atas apa yang
mereka lakukan pada malam terkutuk ini? Mungkin kita harus menjaga anak-anak
perempuan kita dari serigala-serigala yang berkeliaran di malam tahun baru.
Pagi harinya puluhan
sepeda motor itu pun meninggalkan pantai. Ya… mereka adalah puluhan pasang
pemuda-pemudi yang nggak pake celana pada malam tahun baru tersebut,
sepertinya. Mudah-mudahan tidak semua dari mereka yang melepaskan celananya,
atau hanya sedikit saja dari mereka. Aku berharap apa yang aku lihat adalah
salah, tapi itu begitu jelas terlihat di mataku.
Hari tahun baru itu
kami cukup kewalahan menerima orderan dari orang yang ingin berfoto di hari
tahun baru itu. Sorenya kami bergegas pulang, karena misi kami telah usai di
edisi tahun baru ini. Malam tahun baru 2008 yang tak terlupakan. Ah… sungguh
capek buanget hari itu. Mudah-mudahan aku tidak menjumpai malam seperti malam
ini lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar