Sebagai mahasiswa
jurusan KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) atau bisa juga sih di sebut jurusan
Dakwah, aku memiliki tuntutan untuk berdakwah di kampungku sendiri. Selain
kampung itu tempat kelahiranku, di sana juga terdapat karib kerabat yang sangat
aku cintai dan sayangi yang ingin aku lindungi dan ingin aku fahamkan mereka
tentang agama mereka yaitu islam. Tapi tentu saja berdakwah di kampung sendiri
tidaklah semudah berdakwah di kampung orang, karena mereka adalah orang-orang
yang hidup bersamaku dari masa kecilku yang mengetahui gimana bandelnya aku
dahulu. Ini adalah sebuah tantangn untuk dijalani kawan.
Awal mula aku kuliah
jurusan KPI ini di PTS (Perguruan Tinggi Swasta) yang terletak di ibu kota
provinsiku, banyak masyarakat kampungku yang melihatku dengan pandangan miring.
Ada yang bilang aku bakalan jadi teroris, perakit bom dan berbagi tuduhan lain
yang samar-samar sampai ke telingku. Sebagian ibu-ibu di kampungku mengatakan
"Kasihan ya anak-anak bapak itu, ganteng-ganteng kok alirannya sesat.
Padahal anak-anak bapak itu baik-baik." ya begitulah tanggapan sebagian
ibu-ibu di kampungku setelah mengetahu aku kuliah jurusan agama yang mereka
ketahui PTS tersebut. Sebenarnya aku juga kasihan sih kepada mereka, karena
mereka tidak mengetahui bahwasannya mereka tidak tahu.
Pada dasarnya mereka
(warga kampungku) sangatlah menyayangi aku. Mengapa tidak, karena aku selalu
berbaur bersama mereka dan menyayangi anak-anak mereka dan aku menganggap
mereka semua adalah keluargaku. Aku sering berkunjung ke rumah-rumah mereka,
sekedar cerita atau bermain atau membantu apa yang bisa aku lakukan. Itulah
yang membuat aku berbeda dari abang-abangku. Tapi semua itu berubah setelah
kerjaan api menyerang…. Eh, maksudku setelah aku kuliah di PTS tersebut. Hehe….
Sekarang aku duduk
di semester enam yang sebelumnya aku sudah mengambil setahun untuk mempelajari
bahasa Arab ketika aku masih D1. Banyak yang telah kulakukan dan kufikirkan
untuk warga kampungku tercinta agar mereka mau menerima dakwah ini, tapi
usahaku ini masih jauh dari keberhasilan. Aku pernah membagikan al-qur'an
terjemahan kepada mereka, aku juga pernah membagikan buku-buku islami, terus
aku juga pernah membagikan kurma untuk mereka, sampai aku pernah membawa team
Safari Dakwah Id Adha ke kampungku dan mengadakan penyembelihan hewan kurban di
sana, tapi itu semua tidaklah merubah pandangan miring mereka terhadapku. Ah…
harus bagai mana ku mengungkapkannya…. Kau pemilik hatiku… hehe… maksudku
bagaimana lagi caraku memahamkan wargaku tentang agama islam ini ya? Seperti
kewajiban seorng muslim untuk mendirikan sholat dan puasa Ramadhan, membayar
zakat dan meramaikan mesjid dan yang lebih utama lagi bagaimana mereka tidak
mensekutukan Allah Ta'ala dengan pergi ke tempat-tempat perdukunan dan lain sebagainya.
Naguzubillahmindzalik.
Sebenarnya sebagian
dari masyarakat berfikir begini "Ngapailah anak ini ngurusi orang lain,
membuat atau menyelisihi yang telah berjalan lama di kampung ini." mungkin
begitu ya mereka berfikir. Sebenarnya aku juga tidaklah mau menyelisihi kebiasaan
atau adat yang sudah ada dari jaman nenek moyang kita dahulu, dan kalau
difikir-fikir siapa yang mau cari bala? Kan sudah pasti akan timbul masalah
kalau aku menyelisihi kebiasaan di kampung. Tapi semua itu aku lakukan karena
aku sudah mengetahui sebagian dari
kebiasaan kita di kampung itu menyelisihi syariat islam itu sendiri dan
tidak mengikuti sunnah. Emang kalau dibilang aku ini masih anak kencur atau
anak kemarin sore, tapi kalau aku saja yang sudah mengetahui hakikat suatu
kebiasaan itu menyelisihi syariat islam, masak aku harus mengikutinya? Siapa
lagi yang bakal menghidupkan sunnah, kalau penuntut ilmu itu enggan mengerjakan
sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassallam. Setiap aku membaca al-qur'an surat
at-Tahrim, Allah Ta'ala berfirman :
ا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا
أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan."
Aku selau terbayang
dengan keluargaku dan karib kerabatku di kampung. Siapa yang rela kalau mereka
dimasukkan Allah Ta'ala ke dalam neraka sebagai bahan bakar api neraka itu
sendiri dan mereka nanti di sana dijaga oleh malaikat-malaikat yang kasar dan
bengis-bengis yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala
kepada mereka. Kalau kita tahu apa yang menimpa mereka kalau mereka tidak
menjalankan syariat Allah Ta'ala, apa kita ridho kalau mereka di masukkan ke
sana? Maka dari pada itulah aku terus berusaha mengingatkan mereka, walau
sekalipun mereka mencelaku dan membenciku. Walau aku sering dikatai sesat,
teroris dan sebagainya, aku tidaklah bisa membenci mereka. Itu semua karena aku
mengetahui, apa yang mereka belum mengetahuinya. Kalau dilihat, siapalah aku?
Aku hanya seorang pemuda kampung biasa dengan kemampuan yang terbatas, tapi aku
berharap semua orang yang cintai dan ku kenal mendapatkan hidayah taufik dari
Allah Ta'ala dan merasakan manisnya iman itu.
Suatu waktu, setelah
kami selesai mengadakan acara Safari Dakwah Id Adha di kampungku, ku dengar
bahwasannya pembesar-pembesar desa di lorong tempat aku tinggal dan tokoh-tokoh
masyarakat yang ada di sana telah berkumpul dan menetapkan bahwasannya aku tidak
boleh berceramah lagi di mushalla yang terletak di depan rumahku. Ah… sekarang
aku telah dilarang melakukan aktifitas keagamaan di mushalla itu, kecua;li
sholat berjamaah. Sekarang jika datang waktu liburan, maka aku tidak bisa
berceramah lagi di sana dan mengajari anak-anak mengaji di sana walau anak-anak
di sana mendesakku untuk mengajarinya. Pada liburan yang terakhir ini, ketika
aku mengajari anak-anak kampungku mengaji di mushallah, ayahku menahanku dan
menyuruhku pulang. Ah… ayah melarangku bukannya nggak beralasan, tapi kalau aku
masih mengajari anak-anak itu mengaji maka ayahkulah yang bakal masyarakat cela
dan sudutkan nantinya. Demi kemaslahatan ayah, maka aku menghentikan kegiatanku
ini. Aku melihat anak-anak di kampungku yang semangat belajar al-qur'an dan
mendengarkan kata-kata nasehat dariku kecewa berat. Ya… mau bagaimana lagi, apa
yang harus ku lakukan kalau sudah dilarang. Aku hanya bisa berdoa, semoga warga
kampungku diberi hidayah oleh Allah Ta'ala dan dibukakan pintu hati mereka
semua. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar