Senin, 20 April 2015

Surat Untuk Andi

Kita terlahir dari keluarga yang berbeda, walau pun masih keluarga dekat. Meski bukan saudara kandung, tapi kamu tetaplah adikku. Aku memikirkanmu melebihi orang-orang yang lain dalam kehidupanku, walau pun aku memiliki adik kandung. Karena ku yakin apa yang di dapatkan oleh adikku sudah cukup baginya, karena dia memiliki aku dan saudara-saudaraku yang lain. Tapi kamu difikiranku berbeda, apa yang engkau dapatkan dari keluargamu tak sebanyak yang didapatkan adikku dalam kehidupannya. Dikarenakan itu, aku selalu memikirkanmu.

Dahulu di masa kecilku dan tak lekang dari ingatanku, ku selalu menghabiskan masaku bersamamu dan tak ingin lepas darimu. Hal yang tak ku suka saat itu adalah ketika matahari akan terbenam, karena saat itu waktuku telah habis untuk bermain bersamaamu. Dengan mengendap-endap aku pulang dari rumahmu, mencari celah di saat engkau tidak memperhatikanku. Dan tak sekali dua kali aku tak bisa melepaskan diri darimu, dan kamu pun menangis di saat ku tinggalkanmu. Bukan Cuma kamu saja yang sedih, tapi aku pun merasa demikian. Sepanjang jalan aku menahan air mataku dan rasa kesalku karena waktu telah berlalu, dan tak jarang juga air mata itu mengalir di pipiku. Dan saat itu aku berharap waktu cepat berlalu, hingga ku temui hari esok agar ku bertemu dan bermain bersamamu lagi.

Hari demi hari telah kita lalui bersama dan saat itu kita harus berpisah karena kamu pindah rumah bersama keluargamu. Itu adalah suatu hal sangat menyayat hatiku, karena aku tidak tahu kapan akan dapat bertemu denganmu kembali. Aku selalu menanti kabar darimu, apakah engkau sehat di sana wahai adikku apakah makanmu cukup? Itu yang selalu dalam benak fikiranku.

Saat kamu di sana dan aku di sini aku mendengar bahwa ayahmu sedang sakit dan akhirnya dia pun meninggalkan kita. Aku sangat kesal pada diriku waktu itu, karena aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk ayahmu. Dan kamu pun tinggal bersama ibu dan kakakmu. Sekarang kini kamu kehilangan kasih seorang ayah, dan itu membuatku menjadi semakin memikirkanmu. Dan tak lama setelah itu ibumu pun menikah kembali dan hidup bersama suami barunya.

Satu lagi yang membuat hatiku menjerit dan rasanya aku ingin menangis sekuat-kuatnya dan berteriak sekuat kuatnya ketika kamu tidak misa melanjutkan sekolahmu ke jenjang SMP. Aku berfikir keras untuk itu, dan ku pastikan kabar itu dengan bertanya pada kakek, kenapa itu bisa terjadi dan kenapa tidak bisa diusahakan? Aku marah kepada diriku karena aku tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu. Bagai mana mungkin aku bisa tenang kalau dilihat dari pendidikanku SMK yang sekolahnya memiliki fasilitas yang cukup lengkap dengan iuran sekolah yang cukup besar, sedangkan kamu tidak bisa diusahakan memasuki sekolah SMP yang biaya sekolahnya jauh lebih burah. Aku masih ingat ketika abangku berkata "Mau jadi apa dia (aku) kalau tidak di sekolahkan (SMA sederajat), sedangkan kami semua sekolah SMA? Kalau dia (aku) ngak di sekolahkan, mungkin dia akan bertamabah bandel dilihat dari pergaulannya." ketika aku tidak lulus SMA faforit dan ayahku tidak mau ambil tindakan dan ambil pusing tentang sekolahku. Begitulah abangku memperjuangkanku dahulu. Tapi apa yang bisa ku lakukan untukkmu? Aku tidak memiliki kekuatan untuk itu. Adikku, tolong maafkan abang ya!

Gagal, aku gagal menjadi seorang abang yang baik. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan gajiku yang pas-pasan untukku di saat aku bekerja setelah selesai SMK dan kini aku masih melanjutkan studiku di perguruan tinggi suasta dan tak berpenghasilan. Hanya dana dari ayahku lah yang ku harap-harapkan setiap bulannya, karena aku belum bisa bekerja. Adikku! Ku sebut selalu namamu dalam do'aku, mudah mudahan Allah Azza Wajalla selalu menjaga dan melindungimu dari segala mara bahaya. Tak ada yang lain lagi yang bisa ku lakukan selain itu untuk sekarang ini. Adikku! Sungguh abang hanya ingin membuat kamu bahadia dalam dunia dan akhiratmu.

Setelah mendengar kabar tentangmu, bahwasannya engkau sedang sakit karena jatuh dari sepeda motor dan mengalami luka yang cukup serius di kepalamu. Aku tidak bisa berfikir tenang lagi saat itu, dan aku putuskan untuk pulang menjengukmu dan ku tinggalkan semua urusan yang sedang mencekik leherku. Aku hanya berharap engkau baik-baik saja saat itu. Dan setelah melihat kabarmu dengan mata kepalaku sendiri, barulah aku tenang. Air mata yang jatuh mengalir sebelumnya, ku tahan di hadapanmu. Aku tidak inggin kamu bersedih wahai adikku. Karena engkau terlalu berharga untukku.

Aku tidak boleh seperti ini, dikarenakan dengan kemampuanku yang seperti ini aku tidak akan bisa berbuat apa-apa. Aku tidak akan misa melindungi seorang pun, apa bila aku masih lemah. Aku harus kuat, kuat dan lebih kuat lagi. Aku tidak ingin kesedihan melanda orang-orang yang ku sayang berkepanjangan. Mudah-mudahan aku bisa mewujudkan semua impianku sebelum semuanya telah benar-benar berakhir. Allah Ta'ala lebih menyukai seorang muslim yang kuat, dari pada seorang muslim yang lemah. Untuk itu aku harus menjadi kuat.

Ketika aku pulang ke kampung, orang mengatakan bahwa aku menjadi gemuk. Semua kata yang biasa yang bisa membuatku menangis, karena ku lihat tubuhmu yang mungil itu dalam keadaan kurus. Aku merasa bingung, atas apa yang ku dapatkan dan apa yang engkau dapatkan. Tapi semua ini telah tertulis di lauh mahfudz, semua ini sudah di takdirkan oleh Allah Ta'ala ketika kita semua berada dalam kandungan orang tua kita. Aku mohon kamu tetap bersabar dan tegar dalam menghadapi kehidupanmu dan janganlah berputus asa, karena Allah Ta'ala tidaklah menyukai orang-orang yang berputus asa. Karena orang-orang yang berputus asa adalah orang-orang yang terputus dari rahmat Allah Azza Wajalla.


Maka untuk itu, bertakwalah engkau kepada Allah! Karena tidaklah Allah Ta'ala menciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah kepadanya. Adikku sayangilah dirimu dan orang tuamu dari azab api neraka dikarenakan umurmu yang sekarang ini sudah mulai meninggi. Allah Ta'ala berfirman dalam al-qur'an surat at-tahrim yang artinya "Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari azab api neraka yang bahan bakarnya terbuat dari manusia dan bebatuan, yang menjaganya malaikat-malaikat yang kejam dan bengis yang tidak durhaka kepada Allah atas apa yang diperintahkanNya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" maka dari pada itu sholatlah adikku dan do'akanlah ayah dan ibumu. Jangan sia-siakan pengorbanan mereka dalam membesarkanmu dan begitu juga kakek dan nenek yang telah mengurusmu selama ini. Berdo'alah untuk mereka sehabis sholatmu. Itulah buktinya kamu menyayangi mereka wahai adikku. Kalaulah engkau tidak menyayangi dirimu sendiri dan tidak berdo'auntuk dirimu, bagaimana engkau mendo'akan mereka orang-orang kamu cintai. Abang mohon dengan sangat, sayangilah dirimu dan mereka yang telah membesarkanmu! Abang minta maaf, karena tidak bisa menjadi abang yang baik untukmu. Tapi abang akan tetap berusaha menjadi abang yang baik untukmu. Jaga dirimu baik baik wahai adikku, Andi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar